Minggu, 20 Desember 2015

i messed up

Gue masih ingat hari2 dimana gue merasa kacau... Enggak, nggak,, bukannya sekarang udah gak kacau lagi, masih sih kadang. Tapi sekarang gue udah merasa lebih stabil, gak separah dulu.

Emang se kacau apa sih dulu?

Kacau banget! diri gue sendiri kacau. Lingkungan keluarga gue kacau. Keadaan gue kacau, lucu yaa.. Seolah2 dari luar gue gak punya masalah apa-apa. Untung gue gak punya gen gila. Gue yang dulu merasa gak menjadi diri gue sendiri, merasa bukan berada ditempat yang tepat, merasa seperti "ini bukan dunia gue". Dan butuh waktu yang gak sebentar untuk bisa stabil. Sampai detik ini pun gue masih belajar dan berusaha untuk mengendalikan diri dan mengatur jalan hidup gue sendiri.

Gue ga perlu lagi lah koar2 nunjuk masalah ini salah si ini, masalah itu salah si itu... Gue udah bosen membahas masalah dulu-dulu-dulu didalam pikiran gue sendiri yang selalu ngajak ribut, dan pada akhirnya juga gue pun menyadari semua masalah yang terjadi gue juga punya andil untuk membuatnya menjadi kacau.

Setelah semuanya... Gue cuma butuh space untuk berdamai dengan masa lalu, gue cuma butuh di gak ganggu berlebihan, gue cuma butuh waktu yang lebih lama dan tempat yang lebih lapang untuk diri gue sendiri.

Gue gak selfish kok.. Gue cuma butuh spasi (dan ctrl + enter untuk memulai cerita ke chapter berikunya). Tulisan tanpa spasi juga gak akan enak dibaca kan?

She lives in the shadow of a lonely girl 
Voice so quiet you don't hear a word 
Always talking but she can't be heard 

You can see it there if you catch her eye 
I know she's brave but it's trapped inside 
Scared to talk but she don't know why 

Wish I knew back then 
What I know now
Wish I could somehow 

Go back in time and maybe listen to my own advice 
I'd tell her to speak up, tell her to shout out
Talk a bit louder, be a bit prouder 
Tell her she's beautiful, wonderful, Everything she doesn't see 
You gotta speak up, you gotta shout out 
And know that right here, right now 
You can be beautiful, wonderful, Anything you wanna be 
Little me...

Sabtu, 05 Desember 2015

kenapa gue DO?

Sebenarnya sih gue bukan di DO, gue sendiri yang memutuskan untuk keluar. Awalnya gue berpikir opsi kuliah di jurusan perminyakan setelah gak diterima di kedokteran adalah pilihan yang keren, ternyata gue gak cocok kuliah di perminyakan. Dari semester awal gue udah gak nyaman dengan lingkungan kampus gue, gue gak pernah merasa semangat kuliah, ipk gue pun gak pernah nyentuh 3,... Belum lagi jalan dari rumah gue ke kampus tuh macet parah, berasa tua di jalan gue. Dan puncaknya pas gue KL alias kuliah lapangan di akhir semester dua dimana kegiatan KL menggambarkan situasi kerja di dunia perminyakan. Gue pikir gue gak bakal tahan kalo kerja begini selamanya..

Sebenarnya saat itu gue udah pengen banget berhenti tapi ortu gue terutama bokap gue bangga banget gue kuliah teknik perminyakan dan di semester dua itu juga gue gak tahu pengen pindah jurusan apa. I really have no idea.

Dan... Di akhir semester 3 bokap gue kesulitan keuangan. Sebenarnya sih gue senang gue gak harus pergi kuliah ke tempat yang gak gue inginkan, tapi sedih juga sih harus pisah sama teman2 gue. Banyak loh yang nanyain gue di line, facebook, twitter, kenapa gue dah gak pernah kelihatan di kampus. Tapi gak satupun pertanyaan mereka yang gue bales karena gue males jelasinnya. Dan sampai detik ini pun gue juga males kalo ditanya2in tentang kenapa gue berhenti kuliah.

Sebenarnya sih pasti bisa kalo gue perjuangin untuk tetap kuliah, tapi memperjuangan hal yang dari awal lo gak suka tuh sama sekali gak menyenangkan.

Dan sampai sekarang apa gue menyesal dulu memutuskan berhenti kuliah?

Gak kok. Gue pikir keluar adalah pilihan terbaik, malah gue pikir bokap gue deh yang paling kecewa. Dan tambah kecewa lagi dia karena gue gak mau kuliah lagi.. Hahaha

Jumat, 27 November 2015

kondangan

Udah musim hujan nih, biasanya musim hujan musim kondangan karena banyak yang gelar acara kawinan. Bingung juga sih, apa coba korelasinya hujan sama kawin? Gue sebenarnya tipe orang yang males banget dateng ke acara kondangan. kalo gak kenal deket, gak bakal deh gue dateng.


Hal apa sih yang pasti lo perhatiin pas kondangan? Kebanyakan orang pasti lebih peduli sama menu makanannya. Kedua, dekorasi pelaminan dan hall, ketiga bingkisan yang di bawa pulang tamu.

Selebihnya, mau baju nikahan lo semahal apapun, make up lo panglingin atau gak, kartu undangan lo bagus atau gak, gaya foto preweding lo kayak gimana, gak ngaruh deh! Iya kecuali kalo lingkungan pergaulan lo adalah orang-orang high class, artis, dan sosialita

Berawal dari situ gue udah ancang-ancang nih, kalo nanti gue nikah gak perlu lah ngabisin terlalu banyak duit untuk gaun, make up, prewed, dan kartu undangan.

Emang sih semakin tinggi status sosial kita pasti bakal lebih banyak tuntutan dari lingkungan.

Tapi gue suka mikir aja gitu, kenapa sih pernikahan orang indonesia tuh boros banget. Ngabisin ratusan juta yang dikumpulin bertahun tahun cuma buat berdiri beberapa jam. Mending duitnya buat persiapan setelah nikah. Yaa persiapan honeymoon, honeymoon di PIM alias pondok indah mertua. Ahak.. Ahak.. ga deng! maksud gue buat bayar kpr (kalo lo belum punya rumah) persiapan biaya caesar, apalagi yaa? banyak deh.

Kenapa juga harus undang banyak orang? Dari teman dekat banget, saudara jauh, sampai kenalan yang gak kenal-kenal amat... Ampun deh! Takut dibilang sombong apa nggak ngundang2? Kata sahabat gue sarvita, makin banyak yang dateng makin berkah. Lah, berkah dari hongkong?

Bisa gak yaa kalo nanti gue private wedding?

Yaudahlah... Cari aja dulu lakinya, mel :p

Senin, 23 November 2015

kenapa ramalan gak boleh? (menurut sudut pandang gue)

“Katakanlah (hai Muhammad) tidak ada seorang pun yang ada di langit dan di bumi mengetahui perkara gaib kecuali Allah saja.” (An-Naml: 65)

“Dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui rahasia langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan lontaran api. Dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan berita-beritanya. Tetapi sekarang barangsiapa yang mencoba mendengar-dengarkan seperti itu tentu akan menjumpai lontaran api yang mengintai untuk membakarnya. Dan sungguh dengan adanya penjagaan tersebut kami tidak mengetahui apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Rabb mereka menghendaki kebaikan bagi mereka.” (surah Al-Jin: 8-10)

“Barangsiapa yang mendatangi seorang peramal lalu mempercayai apa yang diramalkan, maka ia telah kufur terhadap wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam .” (HR. Tirmidzi No. 135)

“Barangsiapa yang mendatangi seorang peramal lalu menanyakan kepada tentang satu ramalan, maka tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh malam.” (HR. Muslim 2230)

Barangsiapa membatalkan sebuah keperluan karena alasan ramalan mujur-sial maka dia telah syirik kepada Allah. Para sahabat bertanya, “Apakah penebusannya, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ucapkanlah: “Ya Allah, tiada kebaikan kecuali kebaikanMu, dan tiada kesialan kecuali yang Engkau timpakan dan tidak ada Tuhan kecuali Engkau.” (HR. Ahmad)


Agama islam melarang umatnya untuk mendatangi peramal karena dianggap syirik.

Sebenarnya gue bisa sedikit meramal loh. Mungkin lebih tepatnya firasat sih soalnya gue bisa tahu begitu aja TANPA melalui perantara kayak kartu tarot, bola kristal, ampas kopi, batu kerang. Tapi karena sedikit tahu itu, gue jadi merenungi alasan kenapa agama gue melarang ramalan.

Yang gue tau, ramalan itu bersifat subyektif. Bisa tepat sekali, bisa juga diubah. Berubah atau nggaknya tergantung manusianya untuk berusaha juga.

Lagipula, bisa tahu berita dari masa depan bukan selalu menjadi hal yang menyenangkan kok.

Kita bisa aja tahu akan hal buruk yang terjadi sama seseorang tapi kita gak bisa mencegahnya karena si orang itu menganggap kita gak rasional dan kekeuh dengan keinginannya. Nah, sebelum kejadian yang menimpa dia terjadi aja kita udah merasa sedih banget. Serasa sedih diwaktu yang salah...

Dan kalau ada berita baik misalnya tentang usaha kita yang akan berhasil, bisa jadi malah melenceng dari apa yang diramal karena semangat juang kita malah menurun karena udah merasa lega dan terlalu santai.

See... Bisa dimengerti kan kenapa bisa bersifat subyektif?

Tapi kan ramalan bisa merubah nasib buruk mel...

Iya emang, tapi hei.. Tolong di catet yaa, kebanyakan manusia belajar banyak justru dari nasib buruk yang menimpanya. Dan kalau Allah menguji hambanya dengan kesulitan dan kesedihan, bukan berarti Dia gak sayang. Justru masalah itu ada untuk memperpanjang sujud dan doa kita. Masak sih tetap mau menolak takdir yang sudah ditetapkan Nya? Bukankah setelah kesulitan pasti ada kemudahan? Jadi anggap aja ujian itu sebagai cara supaya kita bisa naik kelas di kehidupan nyata. Hidup kan pasti ada upside dan downside nya.. Kata iklan keripik kentang, life is never flat. Kalo flat mati dong, alias cuma orang mati yang gak punya masalah dan tantangan.

Jadi, jangan lagi berharap punya kesempatan melihat kemasa depan. Jangan juga berharap untuk bisa balik ke masa lalu, karena itu sama aja lo gak bersyukur masih di beri kesempatan untuk bernafas. Jalani aja hari ini dengan sebaik2nya. Dan hal baik pun akan datang dengan sendirinya.

Rabu, 18 November 2015

jadi dokter?

kalo gue nanya anak SMA pengen ngelanjutin kuliah apa, pasti kebanyakan pada jawabnya "pengen kuliah kedokteran kak..." mulai dari sepupu gue, temen gue, anak temen bokap gue, sampe yang baru gue kenal. kalo gak dokter, yaa teknik. hmmm gue juga sih, dulu...

Kenapa coba banyak yang pengen jadi dokter? apa karena lagu susan pengen jadi dokter? "susan kalo gede mau jadi apa? mau jadi dokter biar bisa nyuntik kak ria... njus.. njus.. njus.." kayaknya susan psikopat yaa hehehe. Emang apa bayangan orang kalo jadi dokter? Keren pakai jas putih, gaji gede, hidup mapan, jaminan masa depan cerah, menantu idaman semua orang, bagitu kah?

Dulu gue juga pengen jadi dokter, tapi bukan murni keinginan gue. itu keinginan ibu gue, gue iya-in karena dulu gue belum tahu keinginan gue yang sebanaranya itu apa... visi kita pun beda. ibu gue pengen gue jadi dokter supaya gue bisa nolong banyak orang dan punya pekerjaan tetap. sedangkan gue pengen jadi dokter karena gue pikir jadi dokter itu hidupnya mapan. padahal apa atuhhh, dokter jaman sekarang mah mau mapan kudu kejar target jualan obat dari suplier perusahaan obat dulu. kalo penjualannya udah mencapai target baru bisa punya mobil, pergi haji, jalan-jalan keluar negri hahahaha. gue nulis begini bukan sekedar asal teori loh yaa, gue tau ibu gue sendiri dulu di tawarin ama suplier perusahaan obat terkemuka. katanya kalo ibu gue suplai semua obat-obatan kliniknya pake merek dia dan penjualannya udah sampai pada tingkat tertentu bakal dapet hadiah umroh. lah kayak mlm, ibu gue yang idealis dan gak berbakat bisnis gamau lah!

dari dulu sebenarnya keinginan gue itu satu. punya banyak uang karena mimpi gue banyak. kalo gue jadi dokter mana mungkin gue nolong orang, gue ini tipe orang yang mikir untung-rugi. mental gue ini mental pedagang cina, bukan mental mother theresa kayak ibu gue.

gue juga bukan orang yang bisa tahan duduk diem kalem serius belajar dalam waktu yang lama. gue cuma suka belajar apa yang gue senangin dan gue butuh. jangankan kuliah kedokteran, kuliah jurusan biasa aja gue gak tahan. awalnya gue sedih ga diterima di fakultas kedokteran, tapi setelah gue menyadari kuliah di kedokteran gak mudah gue justru jadi bersyukur. ada dua orang yang menyadarkan gue akan hal ini.

pertama, ada teman mabit gue yang nyoba masuk kuliah kedokteran. tahun pertama dia gagal, terus kuliah jurusan matematika, tahun kedua gagal lagi terus dia ronin, tahun ketiga baru dia berhasil masuk kedokteran yang paling bergengsi di pulau sumatra lewat jalur snmptn. pas dia baru kuliah kedokteran, gue lagi awal semester 3. kan gue sering online facebook malam-malam kadang kalo gak malam pagi, yaa sekedar ngecek doang terus gue ofline lagi. anehnya, tiap kali gue online dia ada terus. suatu hari, dia ngechat gue duluan basa-basi tanya kabar. terus dia cerita deh tuh katanya dia nyesel kuliah kedokteran. lah ngapa? dia bilang dia cape ngerjain jurnal seminggu minimal lima jurnal (gue sendiri aja cuma dua jurnal seminggu tapi ampun deh ngerjainnya!), udah gitu jauh dari keluarga, lingkaran teman dekatnya, dan dia gak suka sama lingkungan teman2 barunya yang menurut dia gak asik. gue jadi bersimpati sama dia.

kedua, gue juga pernah baca blognya orang yang gak gue kenal dia itu sarjana kedokteran. gue lupa blognya apa gue nemu itu blog juga nyasar sih, tapi intinya dia cerita kalo dia berasal dari keluarga yang pas pasan yang keluarganya cuma sanggup biayain kuliahnya doang. untuk dia jajan, ngerjain tugas, foto kopi, ngeprint, beli buku segala macem dia mesti magang di 3 tempat. salah satu tempat magang yang honornya paling lumayan itu pas dia kerja jadi penyiar radio. kemudian dia lulus, terus dia magang di RSUD ternyata gajinya kecil. kerja di klinik yang lumayan punya nama juga sama aja, bahkan honor dia waktu kerja waktu jadi penyiar radio lebih gede daripada pas dia magang jadi dokter. semenjak tahu itu gue jadi benar-benar merasa bersyukur pernah gak diterima kedokteran dua kali.

gue jadi mikir kadang Tuhan itu nggak ngasih apa yang kita mau bukan berarti dia gak sayang tapi karena dia tahu itu bukan jalan yang bagus untuk kita tempuh.

dibanding jadi dokter emang sih bagi sebagian besar orang, cita-cita gue kurang terpuji. seolah olah gue tuh orang yang mementingkan diri sendiri. tapi emang apa salahnya? kalo gue bisa menghasilkan banyak uang sendiri at least gue gak mesti nyusahin orang lain, gue bisa bikin pekerjaan buat orang lain, gue bisa jadi filantropis, dan emang cuma dokter yang bisa ngebantu orang? di misi kemanusiaan, pekerjaan dokter tanpa sumbangan uang dari filantropis dan bantuan tenaga dari volunter juga gak bisa jalan. bantuin orang itu gak cuma 1 pintu kok... dan kalo lo dokter juga bukan berarti lo lebih mulia dari orang lain.

Jumat, 16 Oktober 2015

berdamai dengan masa lalu

Memang aku tak slalu
Hadir dalam mimpi indahmu
Mungkin aku tlah berlalu
Jadi kenangan yang tak kau banggakan
Tapi bagiku cinta...
Adalah harta yang tersimpan

Jejak langkah yang kau tinggal
Mendewasakan hatiku
Jejak langkah yang kau tinggal
Takkan pernah hilang s'lalu
Begitulah cintaku

Walau kau hanya singgah
Sekejap di cinta tulus ini
Tapi sangatlah berharga
Jadi kenangan yang aku banggakan
Maka bagiku cinta...

Adalah harta yang ku simpan

Lagu Glenn Fredly  diatas dan artikel hipwee dibawah ini mengingatkan gue tentang luka terbesar dimasa lalu. 
Berbulan-bulan lalu gue bahkan masih sempat mencoba mengungkit2 kenangan lama itu.

Dan seperti membuka luka lama, pertanyaan kenapa bermunculan lagi. Kenapa dulu gue jaim banget sama dia? Kenapa cuma dia yang gak bisa selow gue becandain? Kenapa gue gak jalan bareng sama dia pas pulang acara perpisahan? Padahal dia pulang lewat jalur gue pulang tengah malam berempat sama dua orang teman gue, mungkin waktu itu ada yang mau dia bilang sama gue.. kenapa gue malah kerumah nana waktu terakhir kali gue ada urusan disekolah?Kenapa gue gak bisa beranikan diri untuk telfon dia dan bicara langsung? 

But lucky me, gue yang hari ini sudah lebih matured dari gue yang 10 tahun yang lalu untuk menghadapi sederet pertanyaan jiwa yang cerewet ini.

Gue percaya semua hal yang terjadi di dunia ini gak ada yang terjadi secara kebetulan. Dia memang cinta terbesar dalam hidup gue, tapi mungkin bukan yang terbaik untuk gue. Bukan berarti dia gak baik, cinta terbesar justru menjadi kelemahan utama gue. Kalau gue memiliki dia gue pasti selalu takut kehilangan dia. Gue pasti bakal merasa insecure dan selalu menggantungkan kebahagiaan hidup gue dengan keberadaan dia. Itu sama sekali gak bagus kan? Atau mungkin juga... malah emang gue yang gak baik buat dia. Intinya Tuhan pasti punya rencana yang jauh lebih baik dari rencana kita.

Pernah nih gue berandai2 secara obyektif, gimana kalo dari dulu kita tetap bareng-bareng mungkin gue gatau apa gue bisa punya sahabat setulus evi sama vita.. Kalaupun mereka ada mungkin gue justru mengabaikan pertemanan dengan mereka karena nganggap dia lebih penting. Jadi gue anggap Tuhan memisahkan gue sama dia karena dia sayang sama gue. Dia gak mau masa muda gue sia-sia karena berfokus sama satu orang aja.

Apakah gue tetap berdoa dan meminta sama Tuhan supaya gue dipertemukan kembali?

Jawabannya tidak.
Karena sekarang gue lebih berpasrah diri masalah jodoh kepadaNya. Biar Allah aja yang nentuin mana yang terbaik buat gue, itu udah lebih dari cukup.

Legowo banget...

Iyalah. Gue juga belajar dari kegagalan seorang figur yang gue kenal lewat tulisan2nya, yaitu miss Jinjing. Ketika masih abege, miss jinjing ini jatuh cinta setengah mati sama kakak kelas smanya. Persis dah kayak lebaynya gue pertama kali jatuh cinta. Waktu itu, setiap beribadah dia selalu berdoa semoga dia bisa berjodoh dengan cowok impiannya itu. Dan... Jadian juga deh tuh dia sama cowok itu, sampai nikah dan punya 3 orang anak.

Sampai disini kelihatannya indah gitu yaa, kurang baik apalagi coba Tuhan sama dia. Tapi ternyata Tuhan juga punya rencana lain buat dia. Suaminya ternyata suka main tangan, sering melakukan kekerasan verbal, dan akhirnya suaminya direbut perempuan lain pula. Proses prceraiannya pun tragis. Gue baca novel bercerainya benar2 gak kuat ngebayanginnya.

Dari cermin kehidupan miss jinjing, gue bersyukur sebelum gue menikah gue punya pemahaman atas kemungkinan2 yang tidak baik kalau gue tetap keukeuh dengan keinginan gue. Tuhan sendiri yang justru membuat jalan lain untuk gue tempuh. Meskipun gue menjalaninya serasa jalan di aspal panas dan gak pake alas kaki. Meskipun cuma bantal yang tahu berapa banyak rembesan air mata gue. Tapi itu worthed.

Orang bilang, pria selalu berharap menjadi cinta pertama wanitanya dan wanita selalu berharap menjadi cinta terakhir pria nya.

Tapi hidup tetap terus berjalan meskipun dengan orang ke sekian. Bukannya gue gak percaya dengan cinta pertama menjadi cinta terakhir. Urusan cinta bukan cuma tentang siapa yang jadi pertama dan terakhir. Yang terpenting adalah siapa yang tetap setia berada disisi kita ketika semua orang pergi berpaling meninggalkan kita, yang mau berusaha memaklumi kekurangan kita, dan berusaha mati2an mempertahankan kita.

Gue pernah berada di titik kehidupan dimana gue merasa semua orang di dunia ini gak ada yang peduli dengan keadaan gue. Dan saat itu gue cuma butuh merasa ditemani, di dengarkan, di mengerti. Tapi pernah berada di keadaan itu justru membuat gue merasa bersyukur karena gue jadi bisa tahu siapa orang yang benar tulus sama gue dan siapa orang yang datang sama gue pas butuh doang.

Diusia gue saat ini yang belum menyentuh angka 25, cinta dan pernikahan memang bukan prioritas utama. Tapi gue justru merasa lebih riang karena hati gue bebas gak merasa terikat dengan siapapun. Gue cuma terikat dengan ambisi-ambisi gue. Hal-hal yang selalu membuat gue bersemangat bangun dari tempat tidur dan selalu melihat kedepan.

Hidup itu indah ketika kebahagian itu bisa kita kendalikan sendiri, bukan karena ada atau tidaknya seseorang.

Selasa, 01 September 2015

dekat tapi jauh

Waktu gue SD, ada tetangga gue yang SD nya bareng sama gue. anehnya, kita nggak pernah bisa jadi teman baik. Waktu gue SMP juga gitu, teman sebangku gue adalah tetangga gue. yaa meskipun gak tetanggaan banget sih, beda RT lah.. pulang pergi gue sering bareng dia, tapi yaa cuma sebatas teman aja. Gak pernah merasa klik jadi sahabat. Waktu kuliah juga gitu. Anaknya pak RT di RT gue satu kampus satu fakultas satu jurusan sama gue. dan lagi lagi gue gak merasa dekat, gue sama dia gak pernah tuh curhat-curhatan, ngegosip bareng, ngerjain tugas bareng, hang out bareng, ngomong juga paling seperlunya aja. Padahal orang tua gue sama orang tua dia udah lama kenal baik.

Sahabat yang paling dekat sama gue itu teman SMA gue, sebenarnya rumah kita tuh deketan. Gak lebih dari 1 kilo meter deh pokoknya. Bisa dibilang dekat kan? waktu SMA aja pulang sekolah selalu bareng kok. PR contek-contekkan,kita saling tahu siapa gebetan masing-masing, udah paham juga cara becandaan kita masing-masing. Sampe sekarang masih klik banget.

Kadang gue mikir gini, kalo rumah gue tetanggaan sama mereka kira-kira gue tetap bakal jadi sahabat mereka gak yaaa? Atau justru gue malah merasa insecure terus jadi males temenan sama mereka?

Hidup itu aneh, orang yang deket banget sama kita (saudara atau tetangga) malah bukan orang yang bisa mendukung  dan memahami kita. Tapi orang yang baru kenal kita justru orang yang paling bisa mensupport kita.

Mungkin karena ini juga kali yaa makanya orang yang merantau tuh lebih mudah sukses dari pada orang yang gak merantau. Di tanah rantu orang bisa dapat teman baru, saudara baru, pengalaman baru, bisa mengubah karakter yang jelek juga. Ibu gue dulu bilang, kalau kita terlalu dekat sama saudara sendiri emang kayak bau bangke alias dikit-dikit berantem. Coba kalo jauhan jadi kangen melulu deh. Hahaha iya kan?


Lagipula apa sih yang bikin kita mempunyai semacam keterikatan sama saudara kandung kita, sepupu kita, om tante kita? Hubugan darah. Udah itu doang? buat gue sih family without loyality is meaningless. Kebetulan aja berasal dari kakek dan nenek yang sama. Udah itu aja. 

Jumat, 28 Agustus 2015

kado spesial

Waktu ulang tahun tanggal 23 agustus kemarin, H-7 nya gue request kado spesial sama evi dan vita sahabat gue. lo tau apa yang gue minta??? Coca cola botol/kaleng yang ada nama depan dan nama belakang gue.

Sebelumnya, gue sempat lihat berita coca-cola meluncurkan kemasan baru yang ada 70 nama asli orang indonesia pada umumnya,pas gue cek nih.. eh ada nama Amalia, ada Hadi juga. Wah nama gue mainstream ternyata! Hahaha, gue gak tahu mesti merasa seneng atau justru sebel. Kebetulan banget beberapa hari lagi ultah gue, cepet-cepet deh gue request ke evi sama vita. gue udah geli aja bayangin mereka bakal ngubek-ngubek rak minuman di carrefour buat nyari botol yang ada nama gue.

Pas hari H nih, mereka dateng jam 5 sore. Jeng jenggg!!! Ternyata ada... gue pikir waktu itu wah gampang banget ternyata nyarinya. Eh tapi kok bawa kado yang lain juga sih? Gue kan mintanya coca cola doang? gue belom ngeh deh tuh, pas gue duduk baru vita nyodorin botol nya sambil gue bilang “ihhhhh makasihhh... ketemu juga akhirnya!” sampe disini gue udah girang banget. Lalu.. gue menyadari ada yang gak beres dengan botol coca-cola itu, terus gue nanya dengan polosnya “eh tapi kok agak burem gitu yaa tulisannya?” pas gue balik ternyata.... ealahhhhhhhhh label namanya ternyata cuma tempelan!!! Gue yang tadinya girang jadi merasa patah hati mendadak, tapi sumpah lucu banget anjrit gila gokil, sumpah deh. Gue yang niat ngerjain malah dikerjain balik. Dan gue nggak bisa berhenti ngakak sampe susah nafas.
ini dia penampakan botol coca-cola editan hasil konspirasi mereka berdua...

Trus vita jelasin deh tuh, “kita udah nyari kemana-mana mel, ke indomaret carrefour sevel gak nemu juga! banyakan tuh namanya ayu putra tri, emang lo mau gue kasih yang nama tri?” dih ogah lah! Hahaha “yaudah akhirnya evi cetak aja di warnet terus kita tempel deh! Hahahaa tapi lumayan yaa bisa sampe nggak ngeh gitu padahal ngeditnya kurang halus tuh” wkwkwkwk kreatif juga ternyata. gapapa dah, mending cuma ketipu labelnya doang. daripada ketipu botol coca-cola yang isinya cuka pempek hahaha... 
anak orang palembang pasti pernah ketipu ini paling gak sekali seumur hidupnya, hihihi


Kamis, 27 Agustus 2015

momentum

Akhir2 ini mimpi dalam tidur gue aneh. Gak ada yang spesifik sih, tapi semuanya kayak dalam adegan2 di film action. Kayak lihat orang bunuh-bunuhan, kerja sama team merebutakan sesuatu, kabur dari tempat yang kayak penampungan, jadi pemberontak, bebasin korban penculikan, jadi mata-mata. Dan baru terjadi bulan ini, padahal terakhir gue nonton film action itu sebelum bulan puasa loh, film jurrasic world. Eh harry potter termasuk film action bukan sih? Kalo pas bulan puasa kemarin gue nonton harry potter pertama sampai terakhir.

Ngomongin soal film action, pernah gak sih merhatiin secara spesifik nih. Seringnya keberuntungan pada pemeran utama itu datang disaat momen yang tepat gitu. Entah itu momen hantamannya yang bisa pas, momen temannya datang menolong, momen pas dia kabur, momen pas dia dapetin sesuatu yang dia kejar, momen ketika terselamatkan dari kejadian yang hampir merenggut nyawa, semuanya terasa pas aja gitu meskipun peluang berhasilnya cuma sepersekian detik. Walaupun si pemeran utama pada saat itu juga dihadapi dengan kondisi yang sangat gak memungkinkan.

Dan pernah ga sih lo mikir, dalam hidup ini tanpa sadari kita pernah berhadapan dengan momen-momen yang mengubah hidup kita. Momen-momen itu jarang ada, tapi supaya bisa mengefisienkannya kita sendiri yang harus mengukur dan diimbangi dengan kapabilitas kita kapan waktunya akan datang. 

Misalnya soal urusan opa dan bokap gue yang saat ini menjadi pusat perhatian dan energi gue (sorry gue ga bisa cerita secara spesifik tentang ini) yang bisa merubah banyak hal dari kehidupan gue, gue udah dari duluuu banget nunggu kapan terwujudnya? Diusahain dari jaman gue masih TK, bayangin aja. Tapi baru terealisasi sekarang, disaat gue dewasa. Gue dari dulu mikir, what's wrong with us? Kenapa gagal terus?

Lalu gue memutuskan, daripada gue nunggu momen yang gak jelas kapan datangnya dan bisa bikin gue stress. Mending gue fokus sama diri gue sendiri. Fokus merangkai cita2 gue dan fokus mempelajari hal2 yang berkaitan dengan pengetahuan yang berguna kalau nanti yang diusahain sudah terwujud.

Dan seperti sudah terkonspirasi oleh alam, begitu gue udah mengerti dan paham step2 yang akan gue lakukan dan bagaimana cara melindungi dan menghandlenya. Semua pintu terbuka lebar. Bukan satu urusan doang, melainkan ada 3. Dan yang lebih gila nya lagi, semua terjadi di waktu yang berdekatan, epic banget emang!

Kalo gue flashback kebelakang, kenapa coba tuhan gak buka pintunya pas gue smp, atau sma, atau malah pas jaman2 gue masih sd? Dan kenapa coba dia baru ngasih gue setelah gue melalui tempaan yang bertubi2, kenapa? Yaa mungkin karena dulu gue belum ngerti gimana cara menghandlenya. Mungkin kalo dibukakan waktu itu malah lebih banyak mudharatnya bagi diri gue, orang tua gue, dan saudara2 gue. Mungkin, ah sudahlah!

Tuhan selalu tahu kapan waktu yang terbaik. Dia yang menciptakan momen tapi kita juga yang harus mengejar momen itu sendiri.

Dan seperti quotes dalam dongeng... It's just happens, only if you believes :)


Sabtu, 15 Agustus 2015

he love me or he's not?

Dalam sebuah episode di kehidupan cewek, pasti pernah ngalamin yang namanya "merasa" ditaksir cowok.

Kemudian, diam-diam cewek mengumpulkan bukti atas pembenaran perasaannya. Seperti merasakan tatapan matanya yang terasa berbeda ketika saling berhadapan seolah dia memperhatikan setiap sudut wajah kita ketika sedang mengobrol berdua, memergoki dia curi-curi pandang kearah kita dari kejauhan, sering melike atau comment di postingan jejaring sosial, suka mengajak berbicara hal yang gak begitu penting, bertanya-tanya seputar kehidupan pribadi kita, melakukan kontak fisik beberapa kali seperti menyentuh bahu atau tangan yang entah disengaja atau tidak, kelihatan gak suka kalau kita memuji cowok lain, dan hal yang paling awkward adalah ketika dia yang seolah berusaha mencuri perhatian dengan becandain kita, bikin kita kesel sampe rasanya mau nangis saking jailnya dia, nanggepin curhatan kita. Seolah cuma elo cewek disekitarnya yang dia perlakukan dengan berbeda.

Dan ketika itu lo mikir, "kayaknya dia emang suka deh sama gue?!" Mungkin saat itu lo benar. Dia suka sama lo...

Pertanyaan kita para cewek, kalo emang suka kenapa cuma pedekate? kenapa gak nembak? dan yang lebih gak masuk akalnya lagi, kenapa malah jadian sama cewek lain?  *gemesss*

dulu gue geregetan banget di giniin sama cowok, sedikit frustasi dengan pertanyaan-pertanyaan "kenapa" yang muncul di benak gue. But then i realize, yang namanya cowok ketika suka sama kita belum tentu dia juga niat jadikan kita pacarnya. Jangankan yang suka doang, yang pacaran lama aja belum tentu bakal di pilih jadi pasangan hidupnya.

Kalau  memang niat serius sama kita mudah aja bagi cowok untuk langsung bilang. Yaa emang udah naluri cowok kok buat ngejar apa yang dia mau.

Masalahnya kita itu cewek gampang baper. Diberi perhatian sedikit sama cowok yang kita taksir aja GR nya udah selangit, terus lanjut bayangin gimana yaa kalau nanti jadi pacarnya? hmmm.. sementara si cowok, masih bingung milih si A atau si B atau si X atau si Y yang jadi pacarnya udah kayak milih baju aja. Makanya gue sekarang kalo ada yang deketin berusaha biasa aja dulu. GR sih tetep, pasti ada lah yaa tapi yaudah... di nikmatin aja momen-momen upside and downside nya, perasaan yang bergejolak seperti naik roaler coaster.

Meskipun sedih yaa kadang. Dia yang kemarin mencuri perhatian kita, malah tiba2 jadian sama cewek lain :') Makanya, jadi cewek jangan baper. Hihihi... *reminder my self*


Rabu, 12 Agustus 2015

laki gak becus???

Setelah ibu gue meninggal, banyak loh yang nanyain bapak belum niat nikah lagi?

Jujur nih, sebenarnya gue keki dong ditanya kayak begitu..

Terus karena gue pinter gue sentil aja dengan jawaban begini, bapak mah orangnya bisa ngurus diri sendiri bukan tipe laki yang apa2 harus diladenin istrinya. Kalo bapak gak mandiri, mana mungkin ibu gue karirnya bisa maju.

Dan... Pertanyaan mereka berhenti sampai disitu. Hahaha yes! gue menang... Iyalah, lagipula emang hidup urusannya kawin doang?

Ada loh tetangga gue yang baru jadi duda, belom juga mayat istrinya kering eh udah kawin lagi... Alesannya sih biar ada yang ngurus gitu, lah emang situ gak bisa ngurus diri sendiri? Kalo ngurus diri sendiri aja gak becus gimana bisa ngurus keluarga? Jadi pemimpin? Kasihan banget sih perempuan2 yang dinikahin sama laki2 yang bermental "selalu minta diurusin"

Iya sih tugas istri itu "melayani" suami. Tapi bukan berarti harus selalu melayani semua-muanya minta diurusin sampe makan-minum aja harus di ambilin sama istrinya, baju harus benar2 tangan istrinya yang nyuciin, orang-orang tipe begini gue curiga mungkin kalo pup istrinya juga yang cebokin. Numpang tanya itu jadi istri apa ibunya? Yakin dinikahin karena cinta bukan buat gantiin tugas ibunya?

Kalo laki indonesia pada kayak begitu mah mending gue kawin sama bule aja deh! Suami bule semuanya mandiri, biasa bantu2 bersihin rumah, ngurus anak, bisa masak, laki2 indonesia masih jarang yang bisa kayak begitu. Tapi masih ada laki-laki indonesia yang mandiri. Yaa contohnya bapak gue.

Kelak ketika waktunya gue nikah, gak mau lah punya suami yang solehnya kebangetan. Males banget kalau terlalu banyak di nasehatin, apalagi nasehatinnya dikit2 pake dalil agama. Bahhhh emang hidup gue cuma ngurusin masalah agama doang?

Pas gue cerita soal salah satu pilihan kriteria jodoh gue yang gak terlalu soleh sama Balqis, dia bilang katanya emang gak harus selalu milih yang soleh kok, yang penting itu kita ridho sama akhlaqnya. Alhamdulilah...

Senin, 10 Agustus 2015

it's just about how do i trust you

Berteman dengan siapa pun itu mudah. Tapi untuk bisa sahabatan dan cerita masalah pribadi, wah itu sih entar dulu yak. Hehehe

Gak mudah buat gue bisa bersikap terbuka sama orang lain. Apalagi kalau curhat masalah pribadi, gak semua orang bisa berempati dengan masalah kita kan..

Bisa jadi orang cuma kepo, atau ada juga orang yang kelihatannya sih peduli memberi sekotak tisu dan menghibur supaya kita gak sedih lagi tapi dibelakang kita dia sebenarnya senang dengan masalah yang menimpa kita. Bahkan ada yang malah mencuri2 kesempatan dari masalah yang menghimpit kita.
cuma segini...
Gue sih udah gak kaget sama orang2 yang kayak begitu. Sudah biasa... Sudah gak wow..
Saking udah biasanya gue justru heran kalau ada orang yang terlalu baik dan care sama gue tanpa alasan. That must be something behind of them. Dan sialnya gue selalu benar.

That's why, i'd like to keep my circle small. Kalo udah nyaman sama orang-orang tertentu dan udah tahu juga karakternya masing2 yaa gak perlu lah ditambah2 atau pindah ke circle yang lain.

Fyuhhh... Life is soo cruel darling. We can't trust people in easly.

Minggu, 09 Agustus 2015

friend and unfriend

Menurut lo, perlu gak sih mengaccept orang yang gak cocok berteman dengan kita di dunia nyata?

Ada teman bimbel waktu sma bareng juga tapi gue gak pernah dekat dan juga gak pernah sekelas sama dia. Dari mukanya sih udah kelihatan annoying, dan kenyataannya secara kepribadian pun emang gue nggak pernah ngerasa klik sama dia.

Dunia ini aneh kalo di pikir2.. Semacam ada frekuensi dimana kita bisa bisa langsung klik dengan orang2 tertentu tapi gak bisa cocok dengan orang2 tertentu juga di waktu yang bersamaan. Bahkan nggak suka sama orang lain tanpa sebab juga udah bukan hal yang aneh kan?
One day, si teman annoying ini mengfollow path gue. Sebenarnya sih gue gak punya masalah sama si annoying, fine-fine aja tapi gue males.. Gak rela banget accept dia ke friendlist path gue. Bukannya belagu, dari awal bikin akun emang niatnya buat hiburan lucu2an doang kayak chek in, listening to, watching movies, reading books, posting meme yang lagi happening, celotehan ga penting, dan terutama gue aktif di path karena permintaan 2 sahabat gue yang seneng ngetag2 foto supaya bisa komen2an. Gue juga suka lihat postingan2 teman2 yang meskipun ga penting tapi gue merasa terhibur bisa tahu berita mereka. Tapi apa jadinya kalo saat gue lagi lihat2 tiba2 ada postingan orang yang bikin gue bete mendadak? Dan gue juga gamau jadi kena penyakit katarak gara-gara gak sengaja lihat postingan2 selfienya yang gak banget itcuhhh.

Makanya di path gak following setiap orang yang gue kenal kayak di facebook, yaa supaya terhindar dari penyakit hati dan tentunya gue lebih privat alay2annya dong! hahaha i need a space to being alay, even just a moment. Kalau di facebook kan makin banyak orang yaa makin banyak the nyinyir's, hehehe termasuk gue sih kadang. Padahal kalo lo ga suka gampang delete aja. Tapi emang dasar orang indonesia yaa, seneng banget yak ngomongin orang. hehehe

Gue main path kan buat hiburan bukan buat bete2an. Sama hal nya ketika gue main instagram, gue justru mengunfollow semua orang yang gue kenal di dunia nyata supaya nggak mesti merasa keki dengan foto2 yang enggan gue lihat.
Lagian teman itu bukan sebatas follow atau unfollow di dunia maya. Pertemanan di dunia nyata justru lebih real dan lebih gue hargai. Dan kalau ada orang yang merasa gak cocok temenan sama gue, yaudah itu bukan masalah buat gue. Everybody has their own rules, so it's no big deal.

Sabtu, 08 Agustus 2015

anak jaman sekarang

Sepupu gue pernah ngeluh, dia ngeri sama kelakuan anak jaman sekarang. Apalagi di jakarta, kalo dulu masalahnya tawuran sekarang jadi cabe2 an. "gila.. Parah banget kan? Mungkin kalo anak gue di sekolahin di daerah gak separah itu kali yaa?" dia bilang.
  
Sahabat gue juga pernah mengirim link foto2 parah anak jaman sekarang di grup chatting. Mereka ngeri ngebayangin pertumbuhan kedepannya kalo udah punya anak gimana. Iya sih gimana? Tapi jujur gue salut sama sahabat gue itu, karena semuda itu dia sudah bermental ibu-ibu. Coba bayangin ketika udah jadi ibu-ibu, dia pasti... Yah begitulah!

Ibu gue yang merasa aktif dimasyarakat juga dulu takut banget kalo anak gadisnya tumbuh jadi anak betingkah. Apalagi kalo sampe hamidun, amit2 knock knock on the wood deh. Ibu gue bisa mati berdiri kali kalo gue kayak begitu, tapi untung ibu gue matinya tiduran kan capek kalo lama-lama berdiri. Mengingat ada dua orang sepupu gue waktu itu yang dua2nya anak baik tiba2 hamil diluar nikah. Padahal orang tua mereka adalah orang2 terhormat dan terpelajar.

Untuk masalah pertama gue sih gak merasa terpengaruh. Gue selalu yakin bahkan teramat yakin, pohon kedondong TIDAK MUNGKIN berbuah apel. Dan pohon cabe pasti berbuah cabe. Begitu juga fenomena cabe2an. Kalo anaknya jadi cabe, mbok yaa coba diselidiki dulu ibunya waktu masih gadis gimana? Neneknya gimana? Mengingat pelacuran di indonesia kan emang udah marak dari jaman penjajahan dulu yaa. Makanya dalam pemilihan calon menantu istilah bibit, bebet, bobot itu penting bagi orang jawa.

Gen itu gak mungkin berdusta lah, contohnya aja gue. Udah di didik susah payah dari dulu sama alm. Ibu, Bapak, dan alm. Eyang gue supaya tumbuh jadi halus, sopan, kalem. Lah tapi kalo emang bukan gen nya? Ya bakal balik lagi. Apalagi jakarta keras yak, hahaha. Makin senewen lah gue.

Untuk kekhawatiran ibu gue, dan semua kekhawatiran ibu-ibu se nusantara, yah gue pernah baca kalo kecerdasan anak itu menurun dari kecerdasan ibunya. Tapi kalau kecerdasan emosional anak itu berasal dari peran aktif bapaknya (pernah gak sih merasa, omongan bapak itu lebih mudah di dengar dan dituruti sama anak sedangkan ibu udah ngocehhh berkali2 gak didengerin juga? Emmm... Gue sih dulu begitu hahaha).

Anak yang kurang dekat dengan ayahnya punya kemungkinan lebih besar untuk terjerumus pada cinta yang salah, hamil di luar nikah, itu kalo anak perempuan. Kalo anak laki2 yang dibesarkan tanpa peran ayah bakal mengalami krisis identitas sehingga mudah untuk jadi gay, narkoba, tawuran, dan ikutan genk motor.

Lagipula kasus hamil diluar nikah emang lebih banyak terjadi sama anak2 yang kelihatannya dari luar kalem kok. Bukan hal yang baru lagi kalo si pendiam dan penurut tiba2 hamil atau udah gak perawan. (plis jangan di pukul sama rata kalo semua anak yang pendiam dan penurut kayak begini yaa). Justru anak2 bandel, suka disangka salah gaul, dan susah di atur yang sering di sangka udah gak perawan malah yang ternyata jarang bisa sampai hamil diluar nikah.
 
Nah, yang masih single yang masih berjuang untuk kehidupan yang lebih baik, mumpung belum nikah, belum punya anak, belum terlambat kan untuk menata diri.

Kita emang gak bisa memilih DNA bagus mana yang jadi bagian dari diri kita karena DNA yang memilih kita. Tapi kita kan masih bisa merecode DNA2 kita.

Senin, 03 Agustus 2015

Kw atau ori

Sebenarnya masalah ini lumayan pelik kalau di bicarain secara langsung. Kadang gue jelasin secara fakta tapi gue takut orang merasa tersinggung dengan penjelasan gue. Terlebih lagi gue bukan tipe orang yang gampang ngerocos begitu aja dengan apa yang menjadi landasan pemikiran gue. Pikiran gue itu loncat2 dan seringnya kata2 yang keluar dari mulut gue selalu kalah cepat dengan rangkaian kata yang ada di dalam pikiran gue. Jadi, gue bakal lebih jelasin di postingan kali ini tentang barang kw.

Gue orang yang pro barang ori dan akan selalu mengatakan tidak untuk barang kw. Kenapa? Bukan karena gengsi. Gue bukan orang yang harus selalu pakai barang bermerek dan mati2an jaga gengsi beli barang bermerek. Buat apa? Kalo gue merasa mampu beli yaa gue beli. Kalo gak yaa gak maksa juga. Tapi kalo gak mampu beli bukan berarti gue mau pakai barang kw. Menurut gue itu sama aja gue membohongi diri sendiri. Membohongi seolah2 gue udah "mampu beli".

Barang bermerek menjadi eksklusif karena barang itu menjadi indikator pencapaian seseorang kalau orang itu sudah mampu bertahan di kehidupan yang lebih mapan atau berhasil mencapai achivement tertentu. Wajar dong orang punya cara tersendiri untuk menghargai hidupnya.

Satu hal yang selalu gue pegang tentang barang ori adalah.. Merek tidak mungkin membohongi pelanggan. Karena merek adalah janji produsen pada konsumennya kalau produk mereka dibuat dengan kualitas terbaik. Produk yang memiliki jiwa karena dibuat dengan segenap hati, pikiran, perasaan, butuh waktu minimal tiga generasi untuk punya nama besar, selama itu pula menjaga reputasi, dan dengan modal yang juga tidak sedikit.

Daripada beli barang KW yang cuma nguntungin cina (guangzhou), mending beli barang buatan negara sendiri. Banyak kok yang lebih bagus, harganya sama dengan produk kw. Sekalian bisa meningkatkan merek dan produk dalam negeri pula.

Gue tahu range harga barang kw mulai dari kw 3 yang bau plastik, dibuat abal2 banget dan dijual seharga puluhan ribu rupiah, sampai kw super premium yang bahannya benar2 mirip dengan yang asli, kotak pembungkusnya mirip, dan dijual 10% dari harga aslinya.

Gue juga tahu ada produk lokal yang gak kalah keren dari barang branded. Dibuat dari kulit asli atau kain batik lawasan yang benar2 langka dan bisa dijual sampai jutaan rupiah.

Misalnya aja tas, daripada beli tas LV kw super, mending beli tas pyton leather yang banyak dibuat dari kerajinan lokal. Lebih keren, dan lebih bergengsi dong tentunya. WNA aja banyak yang terkagum2 dengan kerajinan eksotis indonesia, kenapa kita enggak bangga?

Jadilah konsumen yang cerdas. Yang beli bukan asal suka, yang lucu di depan mata tapi beberapa kali dipake ambrol, tapi juga tahu dari mana asal barang yang dibeli, bagaimana barang itu di produksi, apakah ada kemungkinan mencemari lingkungan, apakah serikat pekerjanya di pekerjakan dengan layak oleh produsennya, apakah melanggar aturan seperti mempekerjakan anak dibawah umur, menurut gue itu semua penting sebagai bukti kalau kita konsumen yang cerdas dan peduli.

Mending beli sedikit tapi awet daripada belinya banyak tapi rusak melulu. Yang rusak jadi sampah malah akhirnya lebih banyak mencemari lingkungan.

Senin, 06 Juli 2015

chaos

Setiap orang pasti pernah punya masa chaos alias masa dimana dirinya sangat kacau. Yang ngebedainnya itu cuma kapan waktu dia ngelewatinnya.

Ada yang chaosnya pas masih muda, paruh baya, atau udah tua.

Ada yang menyadari dirinya chaos. Ada yang menyangkal dan menganggap dirinya fine2 aja. Yang menyangkal ini justru mengundang bahaya laten. Karena sangkalannya akan menjadi bom waktu yang sewaktu2 bisa meledak kapan aja.

Mending mana? Chaos waktu masih muda atau pas udah tua? Yaa pas masih muda lah.

Lo salah masih muda orang lain maklum "yaudah sih namanya juga anak muda". Lo salah pas lo udah tua orang bakal bilang lupa umur lah, ga tau malu lah. Salah itu gak dosa lagi. Yang dosa itu udah tau salah bukannya belajar dari kesalahannya tapi malah diulangin lagi. Salah itu malah bagus kalo dari salah itu kita justru jadi belajar banyak hal dari kesalahan itu.

And than, why we so much care what the people talking about us ?

Orang bilang just be yourself aja. Tapi pas jadi diri sendiri malah di omongin ih kok dia jadi gitu sih? Ih tu orang kenapa?

Yaudah deh. Pada akhirnya juga mau bener atau salah tetap aja bakal ada orang yang gak suka dan ngomongin kita. Jadi problem solving nya yaa emang ga usah peduli apa kata orang. Kita kan manusia. Bukan iblis yang 100% jahat juga bukan malaikat yang 100% suci. Manusia emang tempatnya salah kok...

Life is too short to listening and understanding what the people want.

Diri kita adalah semesta, orang lain aja yang suka membuat kita merasa kecil.

Jumat, 29 Mei 2015

in my spritual journey

Gue dari lahir dan tumbuh dari keluarga muslim yang taat. Dari kecil gue sudah diajarkan norma-norma hidup orang muslim. Gue emang gak alim-alim banget lah. At least gue solat 5 waktu, baca alquran, (kadang) sholat sunnah, zakat, dan puasa di bulan ramadhan.

 Tapi hal itu nggak menutup kemungkinan untuk mempelajari hal-hal yang bertentangan dengan agama gue. Emang sih, aspeknya gak luas banget (lagipula dibanding baca buku pengetahuan yang terlalu serius dan bikin ngantuk, selalu menimbulkan polemik dan sara emang lebih asik baca majalah fashion favorit, instagram, dan novel kan? Hehehehe) well... Balik lagi ke topik, pembelajaran gue soal perbandingan agama cuma seputar agama samawi alias agama yang dibawa nabi Ibrahim atau yang disebut juga Abraham. Yap, apalagi kalau bukan islam, nasrani, yahudi. Tapi itupun juga gatau banyak sih. Yaa cuma nice to know aja... Cuma tau oh gitu toh, oh asalnya dari sana toh. Dan sejauh yang gue pelajari, sampai saat ini gak ada agama lain yang bikin gue merasa tertarik untuk pindah agama. Islam is my comfort zone...

Selain agama samawi, ada juga hal2 bersifat spiritual yang membuat gue tertarik dan sedikit gue percayai (tolong dicatat, semua hal yang gue percayai bukan berdasarkan doktrin atau hal yang bersifat dogmatis. Gue ini orangnya ngeyel emang. Gak bisa menerima mentah-mentah hal yang gak bisa gue rasakan atau hal yang sulit dijangkau nalar gue) misalnya ajaran tao tentang fengshui, yin dan yang. Tapi ada juga hal-hal spiritual yang dekat dengan agama gue di sekitaran masyarakat jawa tapi sulit sekali untuk gue yakini. Contohnya hal yang bersifat kejawen. Gue gak percaya pamali dan primbon atau apalah. Biar kata anak gadis gak boleh ini gak boleh itu, nanti takut ini takut itu juga gue gak peduli!

Gue juga tertarik mencari tahu tentang hal-hal yang berkaitan dengan paganisme, cara meramal berdasarkan logika, dan hal hal yang berkaitan dengan kekuatan pikiran. Yaa semua itu nice to know aja sih. Sama halnya dengan gue mencari tahu tentang atheisme, isu fobia agama, atau bahkan satanisme, dan alasan kenapa orang bisa menjadi penganutnya, dll.

Menurut gue perbandingan itu tetap perlu supaya kita gak kemakan opini mentah yang di lemparkan orang-orang yang bahkan dia sendiri ga tau sumbernya dari mana. Dalam hal ini gue pengen bisa berfikir secara subyektif. Toh cari tahu itu gak dosa kan? Yang dosa yaa kalau kita mengimani tuhan lain selain Allah.

rumus tuhan dan rumus manusia

Intro: Sebenarnya ini cerita udah rada basi. Tapi gapapa lah yaa gue angetin lagi biar gak jadi basi. semoga ada hikmahnya bagi kita semua... Amin!

Waktu gue sama vita pergi ke pasar mayestik buat bikin pempek, kita sempat lamaaa banget nunggu bus di blok m melawai. Ternyata, kalo pagi itu gak ada bus metromini lewat melawai. Sementara kita terus menunggu setengah jam akibat ke"sotoy"an gue. #guemahgituorangnya

Pas nunggu bis 1/2 jam itu, ada salah satu obrolan tentang teman-teman yang sukses dan gak sukses. Vita nanya, kenapa yaa anak yang di sekolah biasa-biasa aja malah cenderung bermasalah kayak si X bisa jadi orang yang sukses di kehidupan nyata? Sementara anak yang selalu menempati ranking teratas kayak si Y dan Z kehidupan setelah sekolahnya malah biasa aja bahkan cenderung jauh dari kata sukses?

Emang sih sebenarnya kan tiap orang punya versi suksesnya  masing-masing yaa... Tapi orang terlalu sering mengeneralkan sukses itu yaa... karir lo prospeknya bagus, bisnis lo sukses, kelihatan banyak duit dan blablablah...

Gue ingat beberapa bulan gue juga pernah bertanya-tanya sama diri gue tentang hal ini. Dan gue menemukan jawabannya dari Robert Kiyosaki pengarang buku finansial terlaris rich dad poor dad, dalam bukunya dia bilang begini: Sekolah tidak mengajarkan keterampilan bertahan hidup yang diperlukan di dunia masa kini. Sebagian besar murid meninggalkan bangku sekolah dalam keadaan kekurangan uang dan mencari rasa aman.. Rasa aman tidak ditemukan di luar. Rasa aman ditemukan di dalam. Banyak murid sekolah dalam keadaan tidak siap secara mental, emosional, fisik, dan spiritual. Sistem sekolah telah melakukan tugasnya dengan menyediakan pasokan pegawai serta tentara yang tidak pernah habis, yang mencari pekerjaan dalam bisnis besar dan dalam dunia militer -- rich kid smart kid

Pada akhirnya gue jelasin begini. Ta, rumus tuhan itu nggak berjalan kayak rumus manusia dimana X = Y atau a + b = c. Jadi kalau si A pintar dan berprestasi di sekolah itu bukan berarti dia juga pasti bakal sukses di dunia nyata. Dan kalau si B yang bego kuadrat, tukang bolos tingkat dewa, dan selalu langganan remedial bukan berarti nasib dia bakalan is death setelah lulus. Rasanya terlalu naif untuk kita berfikir seperti itu.

Tuhan itu adil... Karena Dia lebih tahu kondisi dan potensi setiap orang, sementara kita sebagai manusia biasa cuma bisa menilai orang lain dari permukaannya aja.

Semua orang punya jalannya masing-masing... Ada yang dimudahkan lalu dipersulit, Ada yang sulit kemudian dimudahkan jalannya... Ada juga yang begitu-begitu aja jalannya. Kita gak pernah tahu karena kita cuma menilai setiap orang dari luarnya aja. Dan hidup juga gak selamanya selalu baik-baik aja.
jadi...

Tidak ada korelasi antara keberhasilan finansial dan keberhasilan akademis -- Thomas Stanley penulis milionaire next door

Minggu, 10 Mei 2015

TV

Dedicated for my best friend sarvita zulaeha. Because life is too short to spending our time in front of television.


Gue bukannya nganggep orang yang suka sinetron dan gosip itu males. Bukan sama sekali. Gue cuma mikir "emang orang gak capek yaa lihat drama2 kacangan yang di sajikan tv? tahu sendirikan tayangan lokal itu kayak gimana?

Belum lagi lihat jeda iklan yang panjangggg banget, kalo acara tv nya 1 jam 30 menit acara tv 30 menit sisanya iklan. capek dewh! hal-hal yang diulang-ulang itukan masuk ke alam bawah sadar pikiran. Gue nggak pengen aja otak gue isinya cuman slogan-slogan iklan tv.

Belum lagi media, yah lo tahu dong mereka cuma meliput hal-hal yang lagi happening tapi juga beritanya di edit2. Yang biasa aja seolah menjadi tampak luar biasa dan hal yang penting menjadi sangat tidak penting. Itu apa namanya kalo bukan pembodohan publik???

Gue sebagai konsumen merasa berhak milih mana yang pantes gue masukin ke otak dan mana yang nggak. It's like a remote tv, if you want get it so take it, but if you don't like it then leave it. That's all...

Kalo secara pandangan gue pribadi, daripada lihat drama yang dibuat2 gitu mending fokus sama kehidupan diri kita sendiri. Setiap orang punya gift yang namanya "kekuatan pikiran" dimana ketika lo fokus dengan apa yang ada dalam benak lo maka semesta akan berkonspirasi membantu mewujudkan apa yang lo pikirkan. Don't you think it's seems amazing, right? Jadi pikirin hal baik yang kita inginkan saja.

Coba deh bayangin kalo otak lo isinya drama tv, kebayang gak sih kalo secara nggak sengaja pikiran lo bakal berfokus kesana lalu semesta berkonspirasi mewujudkannya kedunia nyata lo? syukur kalau ketiban yang bagus-bagus. Lo tahu sendiri sinetron itu isinya 99% masalah/drama dan kebahagiannya cuma 1%. Emang mau hidup lo jadi kayak begitu? Emang gak capek? drama pribadi aja udah pelik, eh ketularan drama di tv.... amsyong dah!

Dan gue pribadi ngerasa banget kok setiap kali gue habis nonton tv gue jadi nggak fokus. Seolah hal2 yang udah gue genggam dipikiran gue jadi berlari menjauh. Sehingga ketika gue coba buat mikirin ulang semuanya jadi blur.

Makanya kalopun gue nonton drama gue suka yang iklannya tuh sedikit, dramanya juga gak tajam kayak sinetron buatan produser india, atau film2 action yang efeknya cetar membahana , atau serial komedi yang nggak ngeselin.

Seneng-seneng itu sah-sah aja, dan semua orang juga punya cara senengnya masing-masing. Tapi yaa harus disaring juga. Jangan sampe merugikan kita.

and the last but not least....

Rabu, 06 Mei 2015

cerita waktu berangkat ke jogja

Gue tiba-tiba ingat waktu berangkat ke jogja. Gue nggak ngeh kalo di belakang gue ada dirut kai.

Yang bikin gue heran waktu itu, kenapa banyak orang pake seragam masinis wara-wiri sih? Pas keretanya jalan yang diluar pada hormat semua. Wiii... Baru kali ini gue naik kereta terus ada banyak orang yang ngasih hormat dari luar jendela!

Disetiap stasiun yang berhenti, pimpinan stasiun dan pegawai2nya juga pada dateng ke gerbong menyambut pak dirut kai. Terus berdiri hormat lagi di pinggir peron pas keretanya jalan.

"Wahhh... Jadi begini yaa the power of jabatan?"

Jam 12an rombongan dirut kai turun di stasiun cirebon (kalo gak salah) dan doi di sambut lebih ramai lagi. Gue dan bapak gue yang kebetulan duduk di kursi sebelah kiri ngeliatin semuanya sambil berekspektasi dengan argumen kita masing2.

Pas gue googling namanya edi sukmoro (baru tau juga). Semoga pak edi bisa membawa perubahan yang lebih baik kedepannya untuk PT kai.

Senin, 27 April 2015

kapan?

Dan.. Sepupu gue tiba2 ngusulin buat ngadain acara arisan antar sepupu setahun sekali.

Ting tong... Zzzzzzz&%@€\£%-&*-/$§¤¿"^]#]_^

Doohh, gue paling malay deh kalo ngumpul2 begini!

Masalahnya kalo udah diacara kumpul2 gitu, gue paling bete mendengar pertanyaan "kapan"

Kapan skripsi?
Kapan wisuda?
Kapan kawin? *paling horor*
Kapan punya dedek bayi?
Kapan mo nambah momongan?
Kapan punya rumah sendiri?

Kapan? Iya kapan? KAPAN? SHUT UP.... Gue gak tau, nge!

Gue dan semua orang cuma bisa jalanin hidup ini tanpa bisa menebak dan meraba apa yang terjadi di masa depan kita. Gue gak tahu kapan gue lulus, gue gak tahu dimana jodoh gue saat ini, gue juga masih belom tau dari mana rezeki selanjutnya gue berasal. Gue gak tauuuu. GAK TAU!!!! Erggggghhhh....

Kapan mungkin terlalu simpel untuk dijawab. Tapi terlalu menohok untuk dipertanyakan.
Kenapa sih orang indonesia selalu kepo dengan urusan orang lain? Selalu aja ada sesuatu untuk dipertanyakan gitu loh... Emang idupnya sendiri gak punya urusan apahhh?

Kalo hidup lo dari orok sampe sekarang lempeng2 aja, gue ucapin congrats! Tapi lo harus tau gak semua orang hidupnya bisa mulus2 aja.

Seandainya gue senewen, rasanya pengen banget gue tanya balik kalo pas ada acara pemakaman keluarga "kapan nyusul?" ahahaha... Boleh?

Rabu, 11 Maret 2015

teenager problem

Ada yang masa mudanya fine2 aja? Prestasi menanjak, keluarga rukun damai tentram, gak pernah di bully, ga pernah kena kasus, pacaran awet ga pernah konflik dari sd sampe ke pelaminan, kalo elo salah satu dari orang yang ngalamin hal itu, well.. Selamat deh karena gak banyak orang bisa tumbuh dan berkembang dalam kondiri nyaman2 aja.

Hampir setiap orang gue rasa pernah ngalamin masa2 alay norak, labil, galau, or you name it lah yaa. Gue rasa sih wajar, apalagi kalo masih teenager or early 20's. Gue juga, parah banget malah... Saking parahnya malah sahabat gue becandain gue "elu bipolar kali". Mungkin juga bener ahahaha, karena sebelum dia bilang kayak gitu juga nyangka ada yang gak beres. Gue juga pernah depresi remaja karena beberapa hal. Untung ibu gue bukan ibunya marshanda yang bakal ngasih gue cemilan xanax supaya gue tenang. Alhamdulilah...

Tapi mungkin efeknya ke lingkungan. Jujur gue akuin.. Gak pernah ada orang yang jadi sandaran gue secara emosional. Gue gak punya sodara kandung tempat gue berbagi cerita, sama sepupu juga gada yang dekat dihati, ortu gue gak bisa diarepin buat tempat berkeluh kesah karena boro2 dengerin yang ada malah ngelarang ini itu, iya cape deh! Gue juga bukan orang yang mudah merasa nyaman untuk bisa membuka diri gue yang sebenarnya sama orang lain.

Gue suka cerita apa2 sama temen deket gue aja, seringnya kalo gue lagi emosi banget atau lagi kesepian gue cerita dari yang penting sampe yang ga penting. Padahal gue juga gatau kondisi sahabat yang gue curhatin itu gimana. Apa dia lagi fine2 aja, apa dia lagi bahagia terus karena ngeladenin gue yang curhatnya sepanjang jalan pantura dia jadi bete mendadak, apa dia justru lagi ada masalah terus gue curhatin jadi malah tambah mumet, gue gatau. Dan saat itu gue belum dewasa untuk bisa memahami hal itu. Yang gue tahu setelah gue curhat tentang apa yang gue rasain gue merasa lega dan bisa ketawa2 lagi. Sometimes rasanya addicted banget. Serasa di dunia ini cuma dia orang yang paham bahasa lo.

Gue lepas dari depresi itu pas sma, depresi itu hilang begitu aja. Gue gatau kenapa kehidupan sma gue lebih baik daripada masa smp gue. Gue bisa punya besties yang bukan sekedar genk2an belaka. Dari situ gue bisa tahu, oh gini yaa rasanya bisa kenal baik dari hati ke hati. Bisa punya tandem seru2an, berbagi contekan, tugas sekelompok bareng, ketawa2 gak kenal tempat, sampe kadang bikin hal2 yang gatau malu, hal yang belum pernah gue alamin sebelumnya.

Gue sayang sama sahabat2 gue. Bahkan karena ada mereka gue bicara begini sama Tuhan,. "Tuhan gapapa deh aku gak punya pacar, yang penting aku punya mereka" Tapi gue juga bukan sahabat yang tanpa cela, gue gatau apa yang sering bikin sahabat gue sakit hati, gue suka becanda sampe kelewatan. Gue suka komentar nyinyir dan pedas. Padahal gue sama sekali ga pernah niat bikin sahabat gue tersinggung atau merasa gak nyaman. Gue sayang sama mereka kayak gue nganggap mereka sister gue sendiri. Mereka curhat apa aja ketika sesibuk apapun gue malah seneng. Karena sejauh ini gak ada orang yang bisa benar2 paham becandaan gue.

Tapi kalo ada salah satu atau bahkan mereka semua menjauh entah itu emang sengaja atau nggak, gue jadi sedih banget. Gue pengen bisa tetep ketawa bareng2 biarpun kita udah pada sibuk dengan dunia masing2, gue pengen bisa kayak carrie bradshaw dan bestiesnya. Gue pengen punya tempat untuk gue bisa keluar dari runyamnya dunia gue pribadi sejenak. Untuk bisa dengerin cerita2 mereka lagi, untuk nyeritain kekonyolan yang bener2 gak penting, karena sahabat2 gue punya tempat khusus dihati gue yang gak mungkin bisa di jamah orang lain.

Senin, 09 Maret 2015

sendiri

Gue suka sendirian, dan akan selalu butuh space untuk memisahkan diri gue dari hiruk pikuk dunia luar. Kesendirian mengajarkan gue cara menciptakan rasa tenang, aman, damai, dan yang paling penting adalah fokus. Rasanya ketika sendiri, semua imajinasi gue bisa terbang melayang bebas seperti kumpulan kupu2 yang keluar beterbangan menembus dimensi waktu.

Secara psikologis, gue termasuk orang yang introvert. Tapi orang-orang sering mengira gue ekstrovert, well... Mungkin gue ambivert.

Semenjak smp gue sering berusaha bersifat terbuka supaya gue diterima dan dianggap ada di dalam pergaulan. Tapi seringnya, terlalu crowded malah justru membuat gue lelah batin. Makanya, kalo gue habis keluar rumah gue harus netralin diri. Mandi, tidur selimutan ruang gelap sepi dan dingin (by the way, kenapa penggambaran ceritanya lebih mirip sarang naga api yaa? Ahahaha) rasanya lebih comfy dan lebih tenang dibanding gue berada ditengah keramaian. 

Gue bukan orang yang overthinking. Masa bodo lah orang mau mikir apa tentang gue. Soalnya gue itu sensitif (bukan sensi loh yaa). Gue bisa tahu orang2 yang nggak satu frekuensi sama gue, gue bisa merasa energi positif atau negatif dari seseorang. Gue terlalu mudah untuk tahu tentang keadaan seseorang dan itu membuat gue merasa tambah lelah dan ikutan desperate.

Sebenarnya gue benci kenapa bisa merasa hal-hal kecil yang bisa dengan mudahnya membuat gue merasa nggak nyaman. Dulu gue belum ngerti kenapa bisa merasa begitu, tapi sekarang kan udah paham jadi lebih mudah untuk dikendalikan. Rasanya kayak gue punya alarm tanda bahaya yang bakal terus merongrong gue ketika gue gak nyaman. Haha...

Tapi ada feed back nya juga sih. Gue jadi mudah untuk menghargai diri gue sendiri. Jadi sekarang kalo ada orang yang ngeluarin emosinya terus gue bilangin tapi tetep ngeyel. Yaudah, sekarang gue ga terlalu rungsing. Yang penting gue kan udah ngasih tau. Gue cuma manusia biasa, waktu gue terbatas, energi gue terbatas, kemampuan gue terbatas. Gue juga pengen bisa fokus sama diri gue sendiri. Karena di dunia ini cuma hidup gue yang paling bisa gue kendalikan.


Dan... Gue suka quotes ini: