Senin, 03 Agustus 2015

Kw atau ori

Sebenarnya masalah ini lumayan pelik kalau di bicarain secara langsung. Kadang gue jelasin secara fakta tapi gue takut orang merasa tersinggung dengan penjelasan gue. Terlebih lagi gue bukan tipe orang yang gampang ngerocos begitu aja dengan apa yang menjadi landasan pemikiran gue. Pikiran gue itu loncat2 dan seringnya kata2 yang keluar dari mulut gue selalu kalah cepat dengan rangkaian kata yang ada di dalam pikiran gue. Jadi, gue bakal lebih jelasin di postingan kali ini tentang barang kw.

Gue orang yang pro barang ori dan akan selalu mengatakan tidak untuk barang kw. Kenapa? Bukan karena gengsi. Gue bukan orang yang harus selalu pakai barang bermerek dan mati2an jaga gengsi beli barang bermerek. Buat apa? Kalo gue merasa mampu beli yaa gue beli. Kalo gak yaa gak maksa juga. Tapi kalo gak mampu beli bukan berarti gue mau pakai barang kw. Menurut gue itu sama aja gue membohongi diri sendiri. Membohongi seolah2 gue udah "mampu beli".

Barang bermerek menjadi eksklusif karena barang itu menjadi indikator pencapaian seseorang kalau orang itu sudah mampu bertahan di kehidupan yang lebih mapan atau berhasil mencapai achivement tertentu. Wajar dong orang punya cara tersendiri untuk menghargai hidupnya.

Satu hal yang selalu gue pegang tentang barang ori adalah.. Merek tidak mungkin membohongi pelanggan. Karena merek adalah janji produsen pada konsumennya kalau produk mereka dibuat dengan kualitas terbaik. Produk yang memiliki jiwa karena dibuat dengan segenap hati, pikiran, perasaan, butuh waktu minimal tiga generasi untuk punya nama besar, selama itu pula menjaga reputasi, dan dengan modal yang juga tidak sedikit.

Daripada beli barang kw, mending beli barang buatan negara sendiri. Banyak kok yang lebih bagus, harganya sama dengan produk kw. Sekalian bisa meningkatkan merek dan produk dalam negeri pula.

Gue tahu range harga barang kw mulai dari kw 3 yang bau plastik, dibuat abal2 banget dan dijual seharga puluhan ribu rupiah, sampai kw super premium yang bahannya benar2 mirip dengan yang asli, kotak pembungkusnya mirip, dan dijual 10% dari harga aslinya.

Gue juga tahu ada produk lokal yang gak kalah keren dari barang branded. Dibuat dari kulit asli atau kain batik lawasan yang benar2 langka dan bisa dijual sampai jutaan rupiah.

Misalnya aja tas, daripada beli tas LV kw super, mending beli tas pyton leather yang banyak dibuat dari kerajinan lokal. Lebih keren, dan lebih bergengsi dong tentunya. WNA aja banyak yang terkagum2 dengan kerajinan eksotis indonesia, kenapa kita enggak bangga?

Jadilah konsumen yang cerdas. Yang beli bukan asal suka, yang lucu di depan mata tapi beberapa kali dipake ambrol, tapi juga tahu dari mana asal barang yang dibeli, bagaimana barang itu di produksi, apakah ada kemungkinan mencemari lingkungan, apakah serikat pekerjanya di pekerjakan dengan layak oleh produsennya, apakah melanggar aturan seperti mempekerjakan anak dibawah umur, menurut gue itu semua penting sebagai bukti kalau kita konsumen yang cerdas dan peduli.

Mending beli sedikit tapi awet daripada belinya banyak tapi rusak melulu. Yang rusak jadi sampah malah akhirnya lebih banyak mencemari lingkungan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar