Jumat, 16 Oktober 2015

berdamai dengan masa lalu

Memang aku tak slalu
Hadir dalam mimpi indahmu
Mungkin aku tlah berlalu
Jadi kenangan yang tak kau banggakan
Tapi bagiku cinta...
Adalah harta yang tersimpan

Jejak langkah yang kau tinggal
Mendewasakan hatiku
Jejak langkah yang kau tinggal
Takkan pernah hilang s'lalu
Begitulah cintaku

Walau kau hanya singgah
Sekejap di cinta tulus ini
Tapi sangatlah berharga
Jadi kenangan yang aku banggakan
Maka bagiku cinta...

Adalah harta yang ku simpan

Lagu Glenn Fredly  diatas dan artikel hipwee dibawah ini mengingatkan gue tentang luka terbesar dimasa lalu. 
Berbulan-bulan lalu gue bahkan masih sempat mencoba mengungkit2 kenangan lama itu.

Dan seperti membuka luka lama, pertanyaan kenapa bermunculan lagi. Kenapa dulu gue jaim banget sama dia? Kenapa cuma dia yang gak bisa selow gue becandain? Kenapa gue gak jalan bareng sama dia pas pulang acara perpisahan? Padahal dia pulang lewat jalur gue pulang tengah malam berempat sama dua orang teman gue, mungkin waktu itu ada yang mau dia bilang sama gue.. kenapa gue malah kerumah nana waktu terakhir kali gue ada urusan disekolah?Kenapa gue gak bisa beranikan diri untuk telfon dia dan bicara langsung? 

But lucky me, gue yang hari ini sudah lebih matured dari gue yang 10 tahun yang lalu untuk menghadapi sederet pertanyaan jiwa yang cerewet ini.

Gue percaya semua hal yang terjadi di dunia ini gak ada yang terjadi secara kebetulan. Dia memang cinta terbesar dalam hidup gue, tapi mungkin bukan yang terbaik untuk gue. Bukan berarti dia gak baik, cinta terbesar justru menjadi kelemahan utama gue. Kalau gue memiliki dia gue pasti selalu takut kehilangan dia. Gue pasti bakal merasa insecure dan selalu menggantungkan kebahagiaan hidup gue dengan keberadaan dia. Itu sama sekali gak bagus kan? Atau mungkin juga... malah emang gue yang gak baik buat dia. Intinya Tuhan pasti punya rencana yang jauh lebih baik dari rencana kita.

Pernah nih gue berandai2 secara obyektif, gimana kalo dari dulu kita tetap bareng-bareng mungkin gue gatau apa gue bisa punya sahabat setulus evi sama vita.. Kalaupun mereka ada mungkin gue justru mengabaikan pertemanan dengan mereka karena nganggap dia lebih penting. Jadi gue anggap Tuhan memisahkan gue sama dia karena dia sayang sama gue. Dia gak mau masa muda gue sia-sia karena berfokus sama satu orang aja.

Apakah gue tetap berdoa dan meminta sama Tuhan supaya gue dipertemukan kembali?

Jawabannya tidak.
Karena sekarang gue lebih berpasrah diri masalah jodoh kepadaNya. Biar Allah aja yang nentuin mana yang terbaik buat gue, itu udah lebih dari cukup.

Legowo banget...

Iyalah. Gue juga belajar dari kegagalan seorang figur yang gue kenal lewat tulisan2nya, yaitu miss Jinjing. Ketika masih abege, miss jinjing ini jatuh cinta setengah mati sama kakak kelas smanya. Persis dah kayak lebaynya gue pertama kali jatuh cinta. Waktu itu, setiap beribadah dia selalu berdoa semoga dia bisa berjodoh dengan cowok impiannya itu. Dan... Jadian juga deh tuh dia sama cowok itu, sampai nikah dan punya 3 orang anak.

Sampai disini kelihatannya indah gitu yaa, kurang baik apalagi coba Tuhan sama dia. Tapi ternyata Tuhan juga punya rencana lain buat dia. Suaminya ternyata suka main tangan, sering melakukan kekerasan verbal, dan akhirnya suaminya direbut perempuan lain pula. Proses prceraiannya pun tragis. Gue baca novel bercerainya benar2 gak kuat ngebayanginnya.

Dari cermin kehidupan miss jinjing, gue bersyukur sebelum gue menikah gue punya pemahaman atas kemungkinan2 yang tidak baik kalau gue tetap keukeuh dengan keinginan gue. Tuhan sendiri yang justru membuat jalan lain untuk gue tempuh. Meskipun gue menjalaninya serasa jalan di aspal panas dan gak pake alas kaki. Meskipun cuma bantal yang tahu berapa banyak rembesan air mata gue. Tapi itu worthed.

Orang bilang, pria selalu berharap menjadi cinta pertama wanitanya dan wanita selalu berharap menjadi cinta terakhir pria nya.

Tapi hidup tetap terus berjalan meskipun dengan orang ke sekian. Bukannya gue gak percaya dengan cinta pertama menjadi cinta terakhir. Urusan cinta bukan cuma tentang siapa yang jadi pertama dan terakhir. Yang terpenting adalah siapa yang tetap setia berada disisi kita ketika semua orang pergi berpaling meninggalkan kita, yang mau berusaha memaklumi kekurangan kita, dan berusaha mati2an mempertahankan kita.

Gue pernah berada di titik kehidupan dimana gue merasa semua orang di dunia ini gak ada yang peduli dengan keadaan gue. Dan saat itu gue cuma butuh merasa ditemani, di dengarkan, di mengerti. Tapi pernah berada di keadaan itu justru membuat gue merasa bersyukur karena gue jadi bisa tahu siapa orang yang benar tulus sama gue dan siapa orang yang datang sama gue pas butuh doang.

Diusia gue saat ini yang belum menyentuh angka 25, cinta dan pernikahan memang bukan prioritas utama. Tapi gue justru merasa lebih riang karena hati gue bebas gak merasa terikat dengan siapapun. Gue cuma terikat dengan ambisi-ambisi gue. Hal-hal yang selalu membuat gue bersemangat bangun dari tempat tidur dan selalu melihat kedepan.

Hidup itu indah ketika kebahagian itu bisa kita kendalikan sendiri, bukan karena ada atau tidaknya seseorang.