Kamis, 20 Juli 2017

sakit jiwa

Dirumah gue yang di bangka, gue punya tetangga teman main gue dari kecil. Dia setahun lebih tua daripada gue. Dulu waktu sd-smp kita sering main bareng, suka hang out nonton ke blok m plaza, makan di mekdonal favorit kita, main di timezon, belanja perintilan macem ikut rambut, pulpen, stiker lucu, suka cerita soal cowok yang kita taksir, seru deh pokoknya.

Tapi pas sma, kita udah gak dekat lagi. Dia juga berubah jadi kelihatan lebih dewasa dan pendiam. Dia sma di sma negri islam (MAN) gue di sma negri. Kalo papasan sih masih tegur2an biasa, pokoknya gue merasa dia jadi lebih dewasa dan beda deh.

3 tahun setelah lulus sma, dia nikah. Terus punya anak kan, singkat cerita entah kenapa dia jadi gila. Gila beneran... Skyzofrenia. Emang sih ada faktor keturunan juga, pertama dia diem kayak patung dalam jangka waktu yang lamaaa banget, terus kadang kumat teriak2 mukulin mamanya, gue kasihan sih sama dia. Tapi gara-gara dia begitu, gue jadi tertarik googling semua hal tentang penyakit jiwa.

Gue baru tahu penyakit jiwa itu ada banyak macemnya. Skizofrenia sendiri termasuk tingkatan yang paling parah. Gue pikir semua orang berpotensi terkena ganguan jiwa meskipun kita gak punya gen nya.

Dalam kasus tingkatan kecil misalnya maniak dan phobia. Gue sendiri phobia sama kecoa gara2 film the mummy  (pertama) yang ada adegan manusia hidup sengaja di balsam, dibalut, dibaringkan ke peti mumi, di guyur seember kecoa, lalu petinya di kunci. Gue bayangin ribuan kecoa itu menggerogoti si orang tadi sampai habis dagingnya dan mati pelan2. Yaampun menjijikkan banget! Semenjak itu gue benci banget sama kecoa dan gue selalu menyemprot baygon berlebihan kearah kecoa.

Gak cuma fobia, bahkan kebiasaan nimbun barang gak terpakai pun termasuk gangguan jiwa yang namanya hoarder. Ibu gue itu setengah hoarder, dari sampah barang (yang sebenarnya sih masih bisa dipake tapi ganggu banget juga kalo disimpen) sampai sampah manusia (2 orang sepupu yang bikin ktp dirumah gue) semuanya dikumpulin dirumah. Gue yang orangnya suka hal-hal yang rapi, ringkas, bersih, tenang, dan gak suka keramaian benar2 merasa terganggu dengan kebiasaannya. Setelah ibu gue wafat baru deh gue bisa nyingkirin barang2 gak penting yang selama ini dia simpan. Gue sampe protes sama bapak gue, ibu gak kenal tukang barang bekas apa? Daripada di simpan dirumah mending di jual kiloan ke tukang barang bekas.

Gue pun baru tau depresi merupakan penyebab dan gejala awal skizofrenia. Sebenarnya, gue waktu kelas 1 smp pernah depresi loh, untung gue gak punya gen gila. Makanya tetep bisa kelihatan normal.

Selain depresi gue juga pernah emotional eater bahkan sampai bulimia. Gue makan kalo merasa sedih, cemas, kesal, kesepian,. nah kalo dulu gue gendut parah bisa ditebak dong seberapa sering gue merasa begitu? Gue pernah baca, orang emotional eater itu sebenarnya sensitif. Kalo marah gak ngeluapin amarahnya langsung tapi di tahan, karena ditahan terus justru disitu bumerangnya jadi pelampiasannya itu yaa makan. Dulu gue marah dan benci sama keadaan diri gue sendiri. Gue sering nangis sendiri tanpa gue bisa jelasin alasannya. Gue udah gak mau lagi kayak begitu sekarang. Kalo gue gak suka, gak setuju, atau bahkan benci terhadap sesuatu mending gue bilang aja blak-blakan. Gue kalo ngomong emang sadis, dan bikin orang lain sakit hati, tapi bodo amat orang mau terima atau gak. Yang penting bukan gue yang nyimpen kekesalan sendiri tanpa bisa balas apa-apa.

Sekarang hidup gue udah lumayan normal, tapi paling nggak gue udah bisa berdamai dengan masa lalu gue, gue udah maafin diri gue sendiri, dan masih tetap berusaha untuk maafin orang-orang yang mengganggu kestabilan jiwa gue. Tapi yang paling penting, gue belajar untuk lebih mencintai dan menghargai diri gue sendiri.

Kita sebagai orang yang jiwanya sehat jangan suka ngatain atau bahkan menjauhi penderita skyzofrenia. Hampir setiap orang punya kelainan jiwa kok. Kebetulan aja dapetnya gak parah atau mungkin belum ketahuan. Kadang kita perlu melihat kondisi orang yang keadaannya lebih tidak beruntung dari kita, supaya tetap bisa merasa bersyukur.

Ps: penderita skyzofrenia gak selalu gila kayak akting di film2 sinetron kok. Kadang normal, kadang kumat. Bukan atas kemauan dia, tapi emang kumat-kumatan dengan sendirinya. Dia juga gak mau kok begitu...

Jumat, 17 Februari 2017

cita-cita dan cinta

jadi ceritanya, gue kemarin nonton lalaland (again?) yah mungkin karena zodiak gue leo, jadinya gue suka banget deh sama film melodrama kayak lalaland. sebenarnya sih ceritanya simpel -- tapi musiknya keren sih, seorang cewek bernama mia dolan bertekad untuk jadi artis terkenal. tapi gagal casting terus, sembari nunggu panggilan casting dia kerja di coffe shop yang berlokasi di markas hollywood. jadi buat mia pemandangan artis wara-wiri, orang2 sibuk syuting, billboard film, udah bukan hal yang asing lagi.

one day, mia ketemu seorang cowok pianis jazz yang cinta mati dan berniat mendedikasikan hidupnya untuk classic jazz bernama sbastian. tapi sbastian ini kayak rangga aadc, cuek2 cool gitu. tapi kemudian mereka bisa jadi dekat karena mia selalu memprovokasi sbastian (thanks for your tips mia... sekarang gue jadi tau caranya deketin cowok cuek, ahahaha)

dari yang awalnya cuma teman ngobrol, terus jadi dekat banget meskipun tanpa status pacaran atau nggak. kemudian sbastian bergabung dalam band yang beraliran modern jazz, hari2 selanjutnya dia disibukan dengan bikin album-world tour-bikin album lagi-world tour lagi, sedangkan mia semenjak diterima casting dan syuting film di paris hubungan mereka merenggang dan lost contact begitu aja.

5tahun kemudian, mereka gak sengaja ketemuan. saat itu mia udah jadi artis terkenal dan sbastian udah punya club jazz classic miliknya sendiri.

tapi... yang bikin gue sedih adalah dipertemuan ini, mia udah nikah dan punya anak. ketika sbastian memainkan solo piano (lagu: mia and sbastian theme) saat itu mia flashback. dia yang seharusnya pacaran serius dengan sbastian, pertunjukan monolognya sukses, jadi artis terkenal, nikah dan punya anak dengan sbastian, dan tinggal bersama dalam hiruk pikuknya dunia hollywood. yah, seandainya aja semua berjalan seperti itu.. ketika musik berhenti, terhenti juga flashbacknya mia. akhirnya mereka berdua tetap berpisah.

keluar dari ruang teater, gue mikir gini.. mungkin kita gak selalu bisa menggenggam dua keinginan terbesar kita (cinta dan cita-cita). ada kalanya kita harus milih salah satunya aja. seperti mia dan sbastian. kalau mereka tetap sama2, mungkin mia gak akan pernah jadi artis terkenal karena harus nemenin sbastian world tour atau mungkin sbastian gak akan pernah punya club jazz nya sendiri.

ada harga yang mahal untuk setiap kesuksesan besar. terkadang saking mahalnya, sampai kita harus mengorbankan cita2 yang lain.

emang gak selalu begitu sih, ada juga orang beruntung yang sukses mendapatkan cinta dan cita2 nya. tapi gue yakin orang itu gak serta merta beruntung begitu aja. bisa jadi dia "membayar" dua kesuksesannya dengan lebih "mahal". intinya, gak ada kebahagiaan yang sempurna di dunia ini.

“Tidak semua orang mendapatkan pilihan pertama dalam hidup ini. Tapi kita bisa hidup sama bahagianya dengan mereka, meski hanya mendapatkan pilihan kedua, ketiga, atau bahkan keseratus-satu." -- Tere Liye, Berjuta Rasanya

Jumat, 07 Oktober 2016

kucing cantik

Tadi pagi gue ke pasar lihat kucing anggora putih cantik banget sendirian di depan toko plastik. Gue pegang gak ngelawan, dan rasanya pengen gue bawa pulang. Tapi gue takut kalo itu kucing laki bakal berantem sama bos di rumah gue si Meng (ps: kucing adalah pemilik rumah dan majikan, bukan kita yang memiliki dia tapi dia yang merasa memiliki kita). Dan kalo kucing itu cewek dia bakal beranak pinak dirumah gue. gak lagi-lagi deh, gue sudah memutuskan setelah Meng gak akan melihara kucing lagi. Emang sih kucing itu makhluk yang lucu and ngegemesin. Tapi dia merusak sofa, hordeng, karpet, dan bulunya nempelll dimana-mana! Oh itu belum sebanding dengan kelakuannya yang suka nandain wilayahnya dengan cara... ngencing dimana-mana. Beneran tobat deh gue piara kucing lagi!

Tapi kenapa yaa kucing secantik itu bisa ada di pasar? Alasan logisnya sih, kucing cantik itu di buang pemiliknya. Kelihatan banget kayaknya dia masih terbingung-bingung gitu. Tapi apalah daya, gue gak bisa menyelamatkannya. Semoga ada orang berbaik hati mengajaknya pulang kerumah.


Notes: maaf gak ada foto, karena udah jadi kebiasaan kalau ke pasar gak pernah bawa hengpon hahahaa

Rabu, 25 Mei 2016

kaya vs bahagia

Jack ma, pendiri alibaba sekaligus orang terkaya di china pernah berkata kalau dirinya lebih merasa bahagia ketika dia masih belum sekaya dan seterkenal sekarang.

Di dunia ini, standar kaya dan standar bahagia itu bersifat relatif bagi setiap orang.  Gue kenal beberapa orang lumayan kaya yang hidupnya gak bahagia. Gue juga kenal dengan sebagian orang miskin yang punya kehidupan yang bahagia (menurut dia). Meskipun gue lebih sering menemukan orang miskin yang gak bahagia.

Menurut gue, jack ma  dan semua orang yang berpikir kaya adalah bahagia itu naif. Di dunia ini kaya dan kebahagiaan gak di jual paketan kayak burger mekdonal dan cola. Kita harus tetap berusaha mencari dan memperjuangkan kedua-duanya.

Kaya bisa membeli rasa puas. Tapi definisi puas berbeda dengan bahagia.

Dari dulu gue sering  mencari-cari definisi kebahagiaan, tapi rasanya semakin mencari gue semakin merasa kehilangan terminologi dari bahagia itu sendiri. Akhirnya gue menyadari, kalau bahagia itu seringnya datang dalam bentuk yang sederhana, gak mahal, bahkan gratis.

Bahagia gak dijual di etalase toko bermerek premium, bahagia ditemuin pas gue punya waktu untuk ngumpul bareng sahabat2 gue, cerita banyak hal, ketawa-ketawa sampai gak sadar pas mau pulang udah kemalaman. bahagia gue temukan ketika gue bisa menjadi diri sendiri dan bisa memilih jalan hidup gue secara bebas. Bahagia gue rasakan ketika gue menyadari ada orang yang lagi berusaha mati-matian memperjuangkan kenyamanan dan kemudahan hidup gue dimasa mendatang. Bahagia gue temukan ketika gue merasa cukup kuat untuk bisa berjalan menghadapi masalah-masalah gue. Definisi bahagia luas bahkan terlalu luas untuk gue keluhkan. Meskipun sampai saat ini gue masih tetap aja sering mengeluh.

Iya gue bahagia sekarang, meskipun gak bahagia-bahagia amat.  Tapi gue gak mau berpuas diri, gue masih pengen kaya. Dan setelah kaya, gue masih pengen tetap mencari kebahagiaan. Memang udah kodrat manusia kok untuk selalu merasa gak pernah puas. Hidup harus terus diperjuangkan sampai waktunya kita dipanggil pulang ke sisiNya.

Jumat, 15 April 2016

putri kepompong


Kadang hidup ini aneh
Sama seperti cinta yang bisa menentang logika 
Radarku bekerja mencari-cari  sinyal
Tapi malah hampa yang kudapat
Kemudian aku sadar, kalau aku masih berada diruang hampa

Tahukah rasanya hampa?
Hampa adalah ketidakberartian
Hanya ada rasa pengap
Pokoknya tidak enak... aku ingin segera keluar dari sini

Kadang aku ingin kembali ke masa lalu
Tapi aku juga ingin melihat diriku di masa depan
Aku takut, kalau nanti aku menyesali dan  tidak bisa memperbaiki masa lalu

Tapi aku lebih takut kalau tidak bisa menggenggam impianku di masa depan

Jumat, 08 April 2016

hijab

Akhir-akhir ini gue jarang upload foto selfie, kalaupun ada biasanya karena di tag sama sahabat gue. bahkan profpict di facebook, path, dan DP Line gue pakai foto kartun princess disney.

Gue pengen jujur, kalo gue jarang upload foto karena gue merasa gak enak karena saat ini gue udah lepas hijab.

Sebenarnya gue udah jarang banget pakai hijab sejak lebaran tahun lalu. Gue cuma pakai hijab kalau pergi-pergi jauh aja, atau pas gue lagi bad hair day. Dan juga karena sebagian besar pakaian gue adalah pakaian model untuk berhijab seperti rok panjang, lengan panjang.

Ceritanya panjang, tapi yang pasti keinginan ini gak serta merta datang begitu saja. Intinya, ketika mengenakan hijab, gue merasa bukan diri gue lagi. Iya, hijab memang meneduhkan hati gue, karena hijab gue bisa menekan emosi gue, lebih berpositif thinking sama orang lain, gue gak pernah ngeluarin kata-kata yang sifatnya menekan, menghakimi bahkan menyakiti orang lain, tapi hal-hal baik seperti itu gak bisa menolong gue lagi.

Gue berada di lingkungan yang tidak mudah untuk selalu bisa bersikap seperti gue mengenakan hijab Mungkin orang lain pikir gue melakukan ini karena emosi sesaat? Enggak, gue bukan orang yang impulsif. Gue pernah cerita kan, kalo dulu gue butuh waktu lama untuk memutuskan berhijab, dan keputusan berhenti berhijab ini juga butuh waktu lama.

Sebelumnya sudah banyak hal lain yang sudah terjadi sama gue. Gue benci diri gue yang dulu terlalu baik, terlalu sopan, terlalu mudah memaafkan, terlalu merasa gak enak sama orang lain. Gue udah cukup sabar membiarkan orang lain melakukan hal yang membuat gue merasa gak dihargai.

Gue pengen jadi diri gue yang apa adanya, supaya kalau gue berbuat hal yang kurang baik orang lain gak perlu menjudge hijab yang gue pakai. Gue cuma pengen jujur sama diri gue dan melakukan apa yang gue inginkan, kalo orang merespon gue negatif yaa udah gak apa. Lebih baik gue dibenci karena jadi diri sendiri daripada disenangi karena melakukan apa yang orang lain sukai

Kamis, 17 Maret 2016

faktor turunan

Gue percaya banget yang namanya karakter itu adalah faktor keturunan. Yaa meskipun lingkungan juga berpengaruh sih, tapi faktor keturunan tetap menjadi yang paling dominan.

Gue punya beberapa orang sahabat dan selama bersahabat dengan mereka gue mengenal baik keluarganya, dari mengenal keluarganya itulah gue jadi bisa tahu karakter sahabat-sahabat gue ini mirip bapaknya atau ibunya. Dan gue pikir gue beruntung punya sahabat yang berasal dari keluarga yang baik-baik. Beneran baik-baik loh yaa, bukan sok baik. Beda itu...

Gue juga punya sepupu yang kelakuannya plek-keteplek sama bapaknya. Hobi cari mukanya (yaampun kasihan banget gak sih? muka kok dicari-cari, rasanya pengen gue sedekahin muka gue yang gak seberapa ini), gak tau dirinya, belagunya, jago ngebacotnya, tapi UNTUNGNYA nih, dia menurunkan ketololan yang tiada terkira juga dari orang tuanya. Nah sialnya gue, keluarganya dia termasuk sanak famili yang dekat dengan keluarga gue. WTF!!!

Berangkat dari hal itu, sekarang tiap kali gue mau naksir cowok pasti pengen lihat dulu karakter keluarganya gimana. Gak salah sih apa kata orang tua jaman dulu bilang, bibit-bebet-bobot ngaruh banget!

Dunia ini seperti cermin, kalau mau tahu karakter asli anaknya lihat aja orangtuanya. Terutama bapaknya, karena gen anak lebih cenderung mirip bapaknya. Bapaknya tukang kawin insyaallah anaknya tukang kawin juga, bapaknya suka mukul istrinya (apalagi sampe dilihat anak laki-lakinya) insyaallah anaknya bakal mukul istrinya juga. Meskipun kalo soal keyakinan gue masih meragukan sih yaa, misalnya bapaknya soleh banget yaa belum tentu juga anaknya bakalan ikutan soleh. Karena setahu gue iman itu tidak diwariskan tapi ditularkan pada anak.


Intinya.. Pohon nangka itu pasti berbuah nangka, gak mungkin tiba-tiba keluar cempedak walaupun bentuknya mirip. DAN PASTINYA, pohon kedondong tidak mungkin berbuah apel!