Sabtu, 29 Maret 2014

friendship


Dalam persahabatan, nggak mungkin kita selalu baik-baik aja. Seperti halnya pacaran, sahabatan juga bisa merenggang. Entah itu selek, salah paham, atau udah merasa nggak klik lagi.

Gue pernah selek sama tya, karena tya lebih belain mail daripada gue, rasanya tersiksa banget. gue sedih tya berubah tapi akhirnya setelah tya putus kita dekat lagi dan dia minta maaf sama gue. Meskipun gak langsung bisa dekat banget.

Sama vita juga pernah jutek-jutekkan, dia pernah nyinyirin gue masalah gebetan gue. Dan gue nganggap dia nggak bisa maklumin gue. Tapi ternyata dia nggak suka sama gebetan gue karena dia tahu si gebetan bukan orang yang baik buat gue.

Sama evi juga pernah salah paham. Dulu gue pikir evi udah punya dunianya sendiri, batalin janji ketemuan, selalu prioritasin teman-teman kuliahnya, trus gue menjauh. Tapi sebenarnya evi cuma belum ngerti betapa pentingnya prioritas dan janji yang udah dibuat.

Gue itu kalo dikecewain pasti suka langsung menjauh dan mengisolasi diri. Tapi asli deh itu gak banget. pergi dari orang yang bener-bener kita sayang itu seperti pergi meninggalkan separuh jiwa lo dan meninggalkan seberkas luka menganga yang semakin hari semakin melebar. Seperti makin tinggi tembok penghalang diantara gue dengan  mereka yang gue sayang. Padahal disanalah letak kebahagiaan gue. Tempat gue berbagi cerita dan berkeluh-kesah.

Butuh waktu yang nggak sebentar untuk meruntuhkan tembok itu. Kalau waktu itu gue nggak mau membuka diri dan menganggap semua yang berlalu itu clear mungkin seterusnya nggak akan selesai.
Gue benar-benar gak bisa jauh dari mereka... rasanya gue benar-benar gak tahu ketika hati gue membeku harus cerita dan dihibur sama siapa karena memang gak ada yang bisa mengerti sebaik mereka mengerti gue.

Waktu tanpa mereka, gue suka nyelesain masalah gue dengan pergi belanja. Ngabis-ngabisin uang... tapi setelah gue dirumah gue kesepian lagi. Nangis sendiri lagi... benar-benar hopeless.


Tanpa mereka dunia gue cuma ada warna hitam, putih, dan abu-abu. Kayak tivi jaman bahela.

Dari sma gue sering merasa kecewa dan tertekan dengan kondisi dirumah gue (kapan-kapan gue bakal cerita). Tapi sumpah deh rasa kecewa dan tertekan itu sama sekali nggak terasa karena selalu ada mereka didekat gue. Mereka seperti morfin untuk gue. Gue nggak akan peduli seburuk apa hari gue sesakit apapun hati gue asal ada mereka gue gak bakal ngerasa sedih lagi.


Dan orang kayak evi, vita, tya, itu cuma ada 1 di dunia ini. I love them, just the way they are :’)





Kamis, 20 Maret 2014

zenit dan nadir

Mungkin di suatu titik perjalanan hidup kita perlu waktu untuk berfikir sejenak. Untuk mengevaluasi diri, untuk lebih mendengarkan keinginan hati, lalu memutuskan ingin dibawa kemana kaki ini melangkah?

Gue percaya semua orang punya porsi kebahagiaan dan kesedihannya masing masing... tinggal pilih mau menghabiskan porsi kesedihan dulu atau porsi kebahagiaan dulu. maunya sih bahagia terus -- tanpa adanya tangis kecewa, gue rasa kebahagiaan pun akan terasa hambar.


Have you ever seen ECG machine works? Yes,there’s upside and downside. Bukankah hidup juga begitu? Ada saatnya kita berada di titik zenit dan nadir.