Selasa, 19 Desember 2017

depression suicidal

gue bukan kpop lovers, juga bukan fansnya chester bennington --meskipun waktu smp gue suka lagu linkin park, juga baru tahu yang namanya robin williams ketika dia udah masuk berita duka. tapi gue turut berduka mengetahui mereka meninggal dengan alasan yang sama..
.
gue pernah depresi, puncaknya 2 kali. waktu kelas 1 smp -- pertama kali depresi (deym, i was 12th yo), dan waktu semester 1 kuliah. rasanya kayak gloomy, meskipun matahari bersinar cerah. seperti drowning, tapi lo menyadari orang disekeliling lo masih bernafas. pengen bunuh diri, tapi takut kena azab. haha sialan! ternyata sering ikut kajian berguna juga yaa untuk menahan supaya gak buru2 pengen mati.
.
fyi, gue benciiiiii banget kalo ada yang menghakimi orang depresi karena jauh dari tuhan. depresi tuh sama sekali gak ada korelasinya dengan mendekatkan diri sama tuhan! lau pikir kalo depresi terus jadi rajin ibadah, depresi lo sembuh gitu aja?! kalo jawabannya memang begitu, terus kenapa gue bisa depresi? kurang taat apa coba gue sama tuhan?
tapi kalau tanpa agama, mungkin mati bakal terasa lebih mudah yaa? semudah berpikir mati yaa mati aja, masalah lo bakal hilang seiring hilangnya lo dari muka bumi ini... huh, seandainya kalau memang semudah itu..
.
depresi terjadi karena lo tahu apa yang lo inginkan, tapi lo gak tau gimana cara meraih apa yang lo inginkan.
.
hal yang paling gak menyenangkan ketika depresi adalah ketika lo gak bisa menjelaskan apa yang sedang lo rasakan ke orang lain. pengen curhat tapi keseringan curhat disangka galau, berubah keputusan dibilang labil. padahal ketika depresi orang cuma butuh di support dengan cara didengar... di dengarkan aja kok, mbak/mz/om/tante. gak butuh solusi, gak butuh pendapat. karena yang ngalamin masalah itu si yang lagi depresi, jadi sebenarnya memang cuma dia yang tahu solusinya.
.
ada hal yang gue sadari ketika depresi tapi gak bisa gue rasakan ketika normal. gue jadi lebih sensitif dengan perasaan orang lain. dan karena sensitif itu gue jadi mudah untuk mendengarkan dan menghibur orang lain. seperti robin williams pernah bilang "i think the saddest people always try they hardest to make people happy because they know what it's like to feel absolutely worthless and they don't want anyone else to feel like that" tapi sedih juga yaa, ketika kita bisa berempati sama orang lain tapi gak ada orang lain yang bisa berempati ke kita. hmmm...

Jumat, 17 Februari 2017

cita-cita dan cinta

jadi ceritanya, gue kemarin nonton lalaland (again?) yah mungkin karena zodiak gue leo, jadinya gue suka banget deh sama film melodrama kayak lalaland. sebenarnya sih ceritanya simpel -- tapi musiknya keren sih, seorang cewek bernama mia dolan bertekad untuk jadi artis terkenal. tapi gagal casting terus, sembari nunggu panggilan casting dia kerja di coffe shop yang berlokasi di markas hollywood. jadi buat mia pemandangan artis wara-wiri, orang2 sibuk syuting, billboard film, udah bukan hal yang asing lagi.

one day, mia ketemu seorang cowok pianis jazz yang cinta mati dan berniat mendedikasikan hidupnya untuk classic jazz bernama sbastian. tapi sbastian ini kayak rangga aadc, cuek2 cool gitu. tapi kemudian mereka bisa jadi dekat karena mia selalu memprovokasi sbastian.

dari yang awalnya cuma teman ngobrol, terus jadi dekat banget meskipun tanpa status pacaran atau nggak. kemudian sbastian bergabung dalam band yang beraliran modern jazz, hari2 selanjutnya dia disibukan dengan bikin album-world tour-bikin album lagi-world tour lagi, sedangkan mia semenjak diterima casting dan syuting film di paris hubungan mereka merenggang dan lost contact begitu aja.

5tahun kemudian, mereka gak sengaja bertemu. saat itu mia udah jadi artis terkenal dan sbastian udah punya club jazz classic miliknya sendiri.

tapi... yang bikin gue sedih adalah dipertemuan ini, mia udah nikah dan punya anak. ketika sbastian memainkan solo piano (lagu: mia and sbastian theme) saat itu mia flashback. dia yang seharusnya pacaran serius dengan sebastian, pertunjukan monolognya sukses, jadi artis terkenal, nikah dan punya anak dengan sbastian, dan tinggal bersama dalam hiruk pikuknya dunia hollywood. yah, seandainya aja semua berjalan seperti itu.. ketika musik berhenti, terhenti juga flashbacknya mia. akhirnya mereka berdua tetap berpisah tanpa kata.

keluar dari ruang teater, gue mikir gini.. mungkin kita gak selalu bisa menggenggam dua keinginan terbesar kita (cinta dan cita-cita). ada kalanya kita harus milih salah satunya aja. seperti mia dan sebastian. kalau mereka tetap sama2, mungkin mia gak akan pernah jadi artis terkenal karena harus nemenin sebastian world tour atau mungkin sebastian gak akan pernah punya club jazz nya sendiri.

ada harga yang mahal untuk setiap kesuksesan besar. terkadang saking mahalnya, sampai kita harus mengorbankan cita2 yang lain.

emang gak selalu begitu sih, ada juga orang beruntung yang sukses mendapatkan cinta dan cita2 nya. tapi gue yakin orang itu gak serta merta beruntung begitu aja. bisa jadi dia "membayar" dua kesuksesannya dengan lebih "mahal". intinya, gak ada kebahagiaan yang sempurna di dunia ini.

“Tidak semua orang mendapatkan pilihan pertama dalam hidup ini. Tapi kita bisa hidup sama bahagianya dengan mereka, meski hanya mendapatkan pilihan kedua, ketiga, atau bahkan keseratus-satu." -- Tere Liye, Berjuta Rasanya