Jumat, 07 Oktober 2016

kucing cantik

Tadi pagi gue ke pasar lihat kucing anggora putih cantik banget sendirian di depan toko plastik. Gue pegang gak ngelawan, dan rasanya pengen gue bawa pulang. Tapi gue takut kalo itu kucing laki bakal berantem sama bos di rumah gue si Meng (ps: kucing adalah pemilik rumah dan majikan, bukan kita yang memiliki dia tapi dia yang merasa memiliki kita). Dan kalo kucing itu cewek dia bakal beranak pinak dirumah gue. gak lagi-lagi deh, gue sudah memutuskan setelah Meng gak akan melihara kucing lagi. Emang sih kucing itu makhluk yang lucu and ngegemesin. Tapi dia merusak sofa, hordeng, karpet, dan bulunya nempelll dimana-mana! Oh itu belum sebanding dengan kelakuannya yang suka nandain wilayahnya dengan cara... ngencing dimana-mana. Beneran tobat deh gue piara kucing lagi!

Tapi kenapa yaa kucing secantik itu bisa ada di pasar? Alasan logisnya sih, kucing cantik itu di buang pemiliknya. Kelihatan banget kayaknya dia masih terbingung-bingung gitu. Tapi apalah daya, gue gak bisa menyelamatkannya. Semoga ada orang berbaik hati mengajaknya pulang kerumah.


Notes: maaf gak ada foto, karena udah jadi kebiasaan kalau ke pasar gak pernah bawa hengpon hahahaa

Rabu, 25 Mei 2016

kaya vs bahagia

Jack ma, pendiri alibaba sekaligus orang terkaya di china pernah berkata kalau dirinya lebih merasa bahagia ketika dia masih belum sekaya dan seterkenal sekarang.

Di dunia ini, standar kaya dan standar bahagia itu bersifat relatif bagi setiap orang.  Gue kenal beberapa orang lumayan kaya yang hidupnya gak bahagia. Gue juga kenal dengan sebagian orang miskin yang punya kehidupan yang bahagia (menurut dia). Meskipun gue lebih sering menemukan orang miskin yang gak bahagia.

Menurut gue, jack ma  dan semua orang yang berpikir kaya adalah bahagia itu naif. Di dunia ini kaya dan kebahagiaan gak di jual paketan kayak burger mekdonal dan cola. Kita harus tetap berusaha mencari dan memperjuangkan kedua-duanya.

Kaya bisa membeli rasa puas. Tapi definisi puas berbeda dengan bahagia.

Dari dulu gue sering  mencari-cari definisi kebahagiaan, tapi rasanya semakin mencari gue semakin merasa kehilangan terminologi dari bahagia itu sendiri. Akhirnya gue menyadari, kalau bahagia itu seringnya datang dalam bentuk yang sederhana, gak mahal, bahkan gratis.

Bahagia gak dijual di etalase toko bermerek premium, bahagia ditemuin pas gue punya waktu untuk ngumpul bareng sahabat2 gue, cerita banyak hal, ketawa-ketawa sampai gak sadar pas mau pulang udah kemalaman. bahagia gue temukan ketika gue bisa menjadi diri sendiri dan bisa memilih jalan hidup gue secara bebas. Bahagia gue rasakan ketika gue menyadari ada orang yang lagi berusaha mati-matian memperjuangkan kenyamanan dan kemudahan hidup gue dimasa mendatang. Bahagia gue temukan ketika gue merasa cukup kuat untuk bisa berjalan menghadapi masalah-masalah gue. Definisi bahagia luas bahkan terlalu luas untuk gue keluhkan. Meskipun sampai saat ini gue masih tetap aja sering mengeluh.

Iya gue bahagia sekarang, meskipun gak bahagia-bahagia amat.  Tapi gue gak mau berpuas diri, gue masih pengen kaya. Dan setelah kaya, gue masih pengen tetap mencari kebahagiaan. Memang udah kodrat manusia kok untuk selalu merasa gak pernah puas. Hidup harus terus diperjuangkan sampai waktunya kita dipanggil pulang ke sisiNya.

Jumat, 15 April 2016

putri kepompong


Kadang hidup ini aneh
Sama seperti cinta yang bisa menentang logika 
Radarku bekerja mencari-cari  sinyal
Tapi malah hampa yang kudapat
Kemudian aku sadar, kalau aku masih berada diruang hampa

Tahukah rasanya hampa?
Hampa adalah ketidakberartian
Hanya ada rasa pengap
Pokoknya tidak enak... aku ingin segera keluar dari sini

Kadang aku ingin kembali ke masa lalu
Tapi aku juga ingin melihat diriku di masa depan
Aku takut, kalau nanti aku menyesali dan  tidak bisa memperbaiki masa lalu

Tapi aku lebih takut kalau tidak bisa menggenggam impianku di masa depan

Jumat, 08 April 2016

hijab

Akhir-akhir ini gue jarang upload foto selfie, kalaupun ada biasanya karena di tag sama sahabat gue. bahkan profpict di facebook, path, dan DP Line gue pakai foto kartun princess disney.

Gue pengen jujur, kalo gue jarang upload foto karena gue merasa gak enak karena saat ini gue udah lepas hijab.

Sebenarnya gue udah jarang banget pakai hijab sejak lebaran tahun lalu. Gue cuma pakai hijab kalau pergi-pergi jauh aja, atau pas gue lagi bad hair day. Dan juga karena sebagian besar pakaian gue adalah pakaian model untuk berhijab seperti rok panjang, lengan panjang.

Ceritanya panjang, tapi yang pasti keinginan ini gak serta merta datang begitu saja. Intinya, ketika mengenakan hijab, gue merasa bukan diri gue lagi. Iya, hijab memang meneduhkan hati gue, karena hijab gue bisa menekan emosi gue, lebih berpositif thinking sama orang lain, gue gak pernah ngeluarin kata-kata yang sifatnya menekan, menghakimi bahkan menyakiti orang lain, tapi hal-hal baik seperti itu gak bisa menolong gue lagi.

Gue berada di lingkungan yang tidak mudah untuk selalu bisa bersikap seperti gue mengenakan hijab Mungkin orang lain pikir gue melakukan ini karena emosi sesaat? Enggak, gue bukan orang yang impulsif. Gue pernah cerita kan, kalo dulu gue butuh waktu lama untuk memutuskan berhijab, dan keputusan berhenti berhijab ini juga butuh waktu lama.

Sebelumnya sudah banyak hal lain yang sudah terjadi sama gue. Gue benci diri gue yang dulu terlalu baik, terlalu sopan, terlalu mudah memaafkan, terlalu merasa gak enak sama orang lain. Gue udah cukup sabar membiarkan orang lain melakukan hal yang membuat gue merasa gak dihargai.

Gue pengen jadi diri gue yang apa adanya, supaya kalau gue berbuat hal yang kurang baik orang lain gak perlu menjudge hijab yang gue pakai. Gue cuma pengen jujur sama diri gue dan melakukan apa yang gue inginkan, kalo orang merespon gue negatif yaa udah gak apa. Lebih baik gue dibenci karena jadi diri sendiri daripada disenangi karena melakukan apa yang orang lain sukai

Kamis, 17 Maret 2016

faktor turunan

Gue percaya banget yang namanya karakter itu adalah faktor keturunan. Yaa meskipun lingkungan juga berpengaruh sih, tapi faktor keturunan tetap menjadi yang paling dominan.

Gue punya beberapa orang sahabat dan selama bersahabat dengan mereka gue mengenal baik keluarganya, dari mengenal keluarganya itulah gue jadi bisa tahu karakter sahabat-sahabat gue ini mirip bapaknya atau ibunya. Dan gue pikir gue beruntung punya sahabat yang berasal dari keluarga yang baik-baik. Beneran baik-baik loh yaa, bukan sok baik. Beda itu...

Gue juga punya sepupu yang kelakuannya plek-keteplek sama bapaknya. Hobi cari mukanya (yaampun kasihan banget gak sih? muka kok dicari-cari, rasanya pengen gue sedekahin muka gue yang gak seberapa ini), gak tau dirinya, belagunya, jago ngebacotnya, tapi UNTUNGNYA nih, dia menurunkan ketololan yang tiada terkira juga dari orang tuanya. Nah sialnya gue, keluarganya dia termasuk sanak famili yang dekat dengan keluarga gue. WTF!!!

Berangkat dari hal itu, sekarang tiap kali gue mau naksir cowok pasti pengen lihat dulu karakter keluarganya gimana. Gak salah sih apa kata orang tua jaman dulu bilang, bibit-bebet-bobot ngaruh banget!

Dunia ini seperti cermin, kalau mau tahu karakter asli anaknya lihat aja orangtuanya. Terutama bapaknya, karena gen anak lebih cenderung mirip bapaknya. Bapaknya tukang kawin insyaallah anaknya tukang kawin juga, bapaknya suka mukul istrinya (apalagi sampe dilihat anak laki-lakinya) insyaallah anaknya bakal mukul istrinya juga. Meskipun kalo soal keyakinan gue masih meragukan sih yaa, misalnya bapaknya soleh banget yaa belum tentu juga anaknya bakalan ikutan soleh. Karena setahu gue iman itu tidak diwariskan tapi ditularkan pada anak.


Intinya.. Pohon nangka itu pasti berbuah nangka, gak mungkin tiba-tiba keluar cempedak walaupun bentuknya mirip. DAN PASTINYA, pohon kedondong tidak mungkin berbuah apel!

Rabu, 02 Maret 2016

branded temptation

Sebagaimana hal nya cewek, gue sukaaaa banget tas dan sepatu. Kalo baju, karena gue masih ndutz jadi segan deh megangnya. Hahhha

Gue suka belanja, belanja apa aja.. Ke pasar tradisional aja gue suka, ke grand indonesia? APALAGIHHH... Dan ketika belanja, gue orang yang selalu mengutamakan kualitas. Prinsip gue ketika berbelanja adalah, mending sedikit tapi berkualitas dan modelnya gak mudah ketinggalan jaman supaya everlasting dan gak bikin gue cepat bosan.

Karena itu, gue termasuk orang yang mendewakan merek. Bukan karena gengsi loh yaa, gengsi juga termasuk sih tapi bukan alasan utama gue suka barang bermerek.

Buat gue, merek adalah janji produsen kepada konsumen untuk menjaga kualitas barang yang di produksinya.

Sejak tahun 2011, gue mendengar cerita  tentang adanya tas mahal yang harganya mencapai ratusan juta. Tas ini dapetinnya gak mudah dan gak sembarangan orang bisa langsung dapat di tokonya. Tas itu bernama Hermes! Semenjak itu, gue mulai bermimpi untuk bisa nenteng tas itu suatu hari nanti. 

wardrobe room Jamie Chua, sosialita Singapore yang punya lebih dari 200 tas hermes (sebanyak itu? mau dong tanteee, diajak lihat-lihat ke kamarnya..)
Dan di tahun 2012, gue nemuin buku yang mengulas tentang tas yang bikin gue penasaran setengah mati itu. Judulnya hermes temptation yang di karang oleh Alexandra Dewi dan Fitria Yusuf. Ulasannya sangat membuka mata gue tentang hermes. Sampai disitu demam hermes gue reda...

Di tahun 2015, demam ini kumat lagi karena Syahrini gencar banget 'mempromosikan' tas hermesnya di instagram. Saat itu gue baru nemuin web reseller tas hermes yang berpusat di tokyo, namanya lecrin. Dari lecrin itu juga gue baru nyadar, warnanya tas hermes itu buanyakkk banget, saking banyaknya bikin gue bingung 1/2 mati. Bayangin aja, warna pink ada 10, warna merah ada 17, warna biru ada 34, warna kuning dan oranye ada 9, warna hijau ada 8. Dan masih banyak lagi warna candy-candy lainnya yang bikin cewek fashionista selalu histeris. Arghhhh... Pusing.. Pusing... Meriang. Bingung pilih yang mana? Maunya sih semuanya... Ahak ahak... 

Belum lagi bingung pilih ukurannya, modelnya, pola jahitannya, hardware-nya, jenis kulitnya, nah ini juga nih yang juga bikin dilema. Mau kulit anak sapi, sapi dewasa, anak banteng, banteng tua, burung unta, kadal, buaya nil, buaya australi, buaya mississippi, buaya darat mungkin? kalo kulit mantan ada gak yaa???

Tiap gue susah tidur, gue pasti mampir ke web nya lecrin dan googling contoh-contoh gambarnya di google. Misalnya hermes kelly (jenis tas), eutope (warna), epsom (jenis kulit), 28 (ukuran), sellier (jenis jahitan) palladium (hardware). Rasanya semenjak kenal hermes dan lecrin, gue serasa jadi ahli kulit-perkulitan dan warna-pewarnaan. Gue hapal mati semua jenis warna dan kulitnya. Bahkan ketika misalnya gue lagi jalan ke senayan city dan ada orang pake tas hermes, gue bisa menebak-nebak apa warna, ukuran, jenis kulit, bahkan harga tasnya.. Edunzz pisan!

Gue bahkan bikin list tas hermes mana aja yang nanti pengen gue jadikan sebagai barang buruan gue. Dan setelah ditotal, jumlahnya mencapai 16. Waktu itu gue mikir, wah gila juga gue kalo beneran beli 16 biji. Masak mau pelihara tas sebanyak ini? Tapi setelah itu demam gue sedikit mereda meskipun kumat lagi sebulan kemudian.

Gue kemudian mencoba untuk lebih berealistis. Misalnya warna menthe dan mimosa, mau dipake kemana sih tas warna kayak gitu? Belum lagi padu padanin sama sepatu dan bajunya susah, SITU MAU NGARTIS??? *gue jadi nyinyirin diri gue sendiri* Oke.. Delete.

Warna parchemin dan myconos juga, ini warna tas pada umumnya kan? Kenapa harus hermes sih? Masih ada chanel, valentino, fendi, louis vuitton yang gak kalah keren. Kalaupun nanti gue punya anak perempuan juga belum tentu mau ngewarisin tas. Oke... Delete lagi.

Sampai akhirnya dari 16 jadi tinggal 4.

Dan di awal tahun 2016, gue mulai bosan memimpikan tas hermes. Gue juga jadi sensi sendiri, kok artis pantura yang baru mulai terkenal aja udah bisa nenteng hermes sih? Mana ke-eksklusif-an dari tas hermes? Dulu orang yang terkenal aja belum tentu bisa langsung punya, dan cuma orang-orang dilingkungan elit aja yang bisa punya akses beli langsung tanpa harus nunggu bertahun-tahun.

Tapi karena itu pula gue sadar, harga diri tiap orang seorang gak bisa dinilai dari barang bermerek yang melekat ditubuhnya.

Gue mengingat kembali kata-kata mbak Alexandra Dewi di bukunya, rasa bangga memiliki barang mahal itu paling lama cuma bertahan 3 bulan. Setelah itu, yaa udah. Gak berarti apa-apa lagi.. Beda kalau kita menyubangkan uang itu demi kebaikan (bukan karena pamer pastinya) rasanya legaaaa banget dan pastinya akan membawa rasa puas dalam diri sendiri untuk jangka waktu yang lebih lama.

Gue bertanya sama diri gue sendiri... Kenapa sih gue merasa harus banget punya? Supaya dikagumi dan merasa lebih hebat dari orang lain? Supaya ada yang bisa gue banggakan dalam hidup gue? Emangnya gak bisa, bangga sama diri sendiri tanpa embel-embel apapun? Jangan-jangan ada yang salah dengan pola pikir gue selama ini. Jangan-jangan, gue pengen barang mahal supaya menutupi rasa insecure (rasa kurang percaya diri) dalam diri gue sendiri?

Gue gak ingin menyangkal, gue akui banyak banget kekurangan dalam diri gue yang bikin gue merasa insecure. Dan gue sadar rasa insecurities ini ibarat penyakit mental yang harus di cari tau penyebabnya, disembuhin, dan di maintenance, supaya gak kumat lagi.

Tuhan menunda rezeki gue supaya gue punya waktu buat berfikir dan memahami karunianya. Supaya kedepannya gue bisa bertindak dengan lebih bijaksana. Bukan malah menghambur-hamburkan membeli benda yang gak seberapa penting.

Sabtu, 06 Februari 2016

dewasa itu apa?

Dewasa itu apa sih? Sampai batas mana kita bisa dianggap dewasa?

Gue percaya dewasa itu bukan ditentukan oleh usia. Gue sering kok nemuin orang dewasa yang immatured dan bukan sekali dua kali juga gue nemuin anak kecil yang gue anggap pemikirannya lebih dewasa. Terkadang gue sendiri pun bisa bersikap dewasa dan terkadang juga gue bisa bersikap kayak anak kecil (terutama pas lagi ngambek) semua itu muncul begitu aja, bukan karena sengaja gue buat-buat.

Tya pernah bilang, semua orang dewasa adalah anak kecil yang pura-pura menjadi dewasa. Gue setuju, kebanyakan dari kita menjadi dewasa karena tuntutan dan tekanan dari lingkungan kan?

Gue tau mana hal baik, mana hal buruk, patut, dan tidak patut, mengerti akan sebab akibat, gue bisa bedakan dan mengerti semuanya dengan jelas.

Tapi terkadang,gue merasa lelah jadi orang dewasa,

Gue lelah untuk terlalu sering mendengarkan apa kata orang, gue lelah untuk selalu berusaha mengerti orang-orang disekeliling gue, gue benci alasan orang-orang supaya gue bisa memaklumi. Bahkan terkadang untuk hal-hal yang bersifat realistis gue diharuskan menekan sifat kekanak-kanakan gue. Gue benar-benar lelah dengan semua itu.

Gue bosan jadi orang dewasa.

Gue bosan terlalu jinak dan gak pernah membantah.
Gue bosan untuk membuat orang lain merasa nyaman sementara gue merasa terganggu.
Gue bosan bersopan santun sama orang yang belum tentu menghargai gue.
Gue bosan pura-pura tertawa dengan candaan orang yang gue pikir sama sekali gak lucu.
GUE BENCI DI NASEHATIN KAYAK ORANG BEGO. Gue gak bego, orang yang kebanyakan nasehatin gue yang bego!

Salah gak sih gue nuntut begini?

SHOUD I HAVE TO SAY "I'M SORRY FOR BEING ME"?


Gue cuma butuh space untuk jadi apa yang gue mau tanpa ada intervensi dari apapun dan siapapun. Udah itu aja, sesederhana itu...








Now playing: jessie j - who you are

Jumat, 05 Februari 2016

masalah buat lo?

Selama ini gue kan kalo nulis selalu berusaha untuk menampilkan citra lucu. Bahkan di dunia nyata sekalipun gue lebih suka dianggap sebagai orang yang lebay. Bagi gue lebay itu pujian, bukan ejekan.

Tapi sebenarnya hidup gue gak selucu itu kok. Malah sebagian besar hal yang jadi candaan gue adalah kata-kata satire dari dunia gue yang gue ungkapkan secara implisit. Ga percaya? Yaudah! 

Emang kenapa gak di ungkapin blak-blakan aja langsung?

Karena masalah hidup gue gak sedangkal yang orang lain pikir. Lagipula apa bagusnya mengumbar masalah pribadi? Semua orang hidup di dunia ini punya masalahnya masing-masing. Elo dengan kerunyaman hidup lo, gue dengan kerunyaman hidup gue.. Yaa selesaikan sendiri dong! Nah, sebagai orang yang menyadari akan hal itu, maka gue berusaha untuk lebih mengerem sifat kekanak2kan gue dengan cara gak lagi menceritakan masalah-masalah gue ke orang lain. Bahkan sahabat terdekat gue atau bahkan saudara-saudara gue (hellow... Kapan gue punya saudara? I'm the only child. Remember that!) gak tau.

Toh cerita ke orang lain juga gak memecahkan masalah gue juga kan? Gue punya kebiasaan, kalo gue udah cerita sama orang lain gue malah jadi merasa plong.. Lega. Lah kalo gue udah merasa lega duluan, kapan penyelesaian masalahnya coba? Yang ada malah gak kelar-kelar karena gue udah keburu mikir "yaudahlah..."

Ini kan hidup gue, masalah gue, dan emang udah seharusnya gue juga yang menemukan solusinya. Gue cuma menjalani apa yang udah digariskan Tuhan untuk hidup gue. Hidup ini gue anggap ibarat drama panggung, semesta sebagai gedung hall pertunjukannya, gue pemeran utamanya, masalah menjadi jalan ceritanya, orang lain figurannya, dan Tuhan sebagai penulis skenarionya. Terakhir, tinggal gue sendiri yang nentuin backsoundnya? Maunya gue sih semua scenenya pake lagu drama musikal kayak glee cast, ahehehe... *tetep yaa pilih yang lebay*

Minggu, 17 Januari 2016

cerita dari supir grabcar

Halo bloggers selamat tahun baru.. hahaha telat banget, tapi ini kan postingan pertama gue di tahun 2016 jadi gapapa dong kalo gue mau ngucapin selamat tahun baru. cerita gue kali ini sedikit dilematis, gue sebenarnya pengen menyimpan cerita ini untuk diri gue sendiri, tapi gue juga pengen berbagi sama orang-orang yang gak bergelut di dunia perminyakan atau lebih tepatnya sama anak-anak sma yang bercita-cita masuk teknik perminyakan supaya lebih mikir berkali2 (atau lebih tepatnya lagi membatalkan rencana) untuk milih jurusan itu.

Sebenarnya benar-benar gak pantas untuk gue menceritakan pengalaman yang satu ini, gue bukan tipe orang yang suka tertawa karena merasa benar diatas kesulitan orang-orang yang gak punya masalah sama gue. Tapi semoga aja tulisan ini gak pernah sampai di mata dan telinga teman-teman kuliah gue (yaa dimana lagi gue pernah kuliah?)

Jadi ceritanya, seminggu yang lalu gue janjian sama Evi dan Vita sahabat gue untuk hang out. Vita ngerequest tempat ketemuannya di mall yang dekat sekolah kita dulu. Untuk mencapai kesana kita naik grabcar yang di order dari tempat gue. Pertama gue naik, gue bilang dong ke tempat tujuannya mesti lewat tendean karena mau jemput Evi, supir grabcarnya merasa keberatan karena daerah tendean itu supermacet, tapi kalo tetap mau lewat sana dia minta di tambahin, yaudah gue iya in deh tuh.

Kalo gue perhatiin kayaknya mas supir grabcarnya orang terpelajar gitu, buku bacaan di samping joknya aja buku motivasinya Daniel Goleman. Untuk memecahkan suasana siang itu, gue basa-basi lah. Udah berapa lama jadi supir grabcar? Dia bilang baru beberapa minggu (gue lupa tepatnya berapa minggu) trus dia cerita, dia jadi supir grabcar karena baru dipecat dari chevron. Nah! Gue penasaran dong, udah berapa lama dia kerja di chevron? apa jabatan terakhirnya? Tanpa dia menjelaskan pun gue sebenarnya paham kenapa dia dipecat. Mengingat harga minyak lagi terjun bebas dan gue benar-benar tau perusahaan hulu minyak (dan mungkin service company juga) pada mangkas pegawainya.

Dia lulusan perminyakan ITB angkatan 1993 (waduhhh gue masih bayi men!), pernah kerja di ladang minyak kuwait pas masih fresh graduated, dan ternyata jabatan terakhirnya di chevron itu manager.. OMG, gue merasa simpatik sama dia. Orang yang dari jabatannya lumayan mapan tapi tetap mau nyoba berusaha apapun untuk cari uang sendiri sampai mau jadi supir grabcar. Dia bilang, dia lagi nunggu wawancara perusahaan minyak di papua. Gue tahu dalam keadaan begini pasti gak mudah untuk dia dapetin pekerjaan di bidangnya.

Mungkin karena gue tahu lumayan banyak tentang industri perminyakan obrolan gue jadi nyambung sama mas supir grabcar. Bahkan pas ada Evi sama Vita pun gue masih ngobrol, dan bahasan obrolannya malah jadi nyambung tentang anak istrinya.

Pas udah sampe yaa obrolan kita berhenti sampai disitu dong. Selama hang out pun gue gak mikir apapun yang jadi obrolan kita di grabcar. Baru dah pas dirumah gue cerna-cerna lagi obrolannya.

Gue bertanya sama diri gue sendiri, jadi... keputusan gue keluar dari kuliah tiga tahun yang lalu itu udah benar nih? Tiga tahun yang lalu siapa yang bakal menyangka tahun 2015 harga minyak mulai merosot? Gue baca di koran, pertamina bahkan memangkas 30% produksi hulunya  karena harga minyak udah tinggal seperempatnya yang menyebabkan harga jual gak bisa nutupin ongkos produksi. Dan gue yakin keadaan kayak begini gak sebentar. Pasti bisa lebih dari 5 tahun. Si mas supir grabcar kalaupun dapat pekerjaan di bidangnya pasti memulai dari bawah lagi. Mana ada lowongan pekerjaan langsung jadi manajer? Dan memang biasanya semakin keatas jenjang jabatannya, peluangnya pun makin sempit. Dan sialnya lagi, perusahaan pasti lebih suka merekrut fresh graduated dibanding orang-orang kayak dia. Tahu dong alasannya?

Sebenarnya industri migas adalah industri yang paling juicy, dalam artian cepat balik modalnya (yaa tapi tergantung dari sisi mana kita berada sih) untuk saat ini, gue pikir dari sisi impor minyak mentah dan pengolahan minyak (refinery) malah menjadi primadona karena diuntungkan dengan penurunan harga minyak. Tapi jelas aja impor dan refinery bukan bidang pekerjaannya petroleum engineer.

Keluar dari jurusan yang gak gue inginkan dan memutuskan gak mau lagi kuliah memang membuat gue merasa lega, tapi selama itu juga gue berpikir apa langkah gue benar? Kalau gue salah dan mereka benar gimana? Selama itu pula gue berusaha untuk berfikir nothing to loose. Benar atau salah, tetap aja gue merasa udah mengambil keputusan yang tepat. Selama gak kuliah bukan berarti gue gak belajar. Gue malah belajar banyak hal yang cakupannya lebih luas daripada pas gue masih berada dibangku kuliah. Gue bisa nemuin passion gue, gue bisa punya waktu untuk memahami diri gue sendiri, gue bisa berdamai dengan keadaan gue dimasa lalu. Semuanya gue pelajarin secara autodidak. Dosen gue cuma google, dan kampus gue di perpustakaan daerah hahaha.. gak percaya? Tapi kenyataannya emang begitu.