Minggu, 17 Januari 2016

cerita dari supir grabcar

Halo bloggers selamat tahun baru.. hahaha telat banget, tapi ini kan postingan pertama gue di tahun 2016 jadi gapapa dong kalo gue mau ngucapin selamat tahun baru. cerita gue kali ini sedikit dilematis, gue sebenarnya pengen menyimpan cerita ini untuk diri gue sendiri, tapi gue juga pengen berbagi sama orang-orang yang gak bergelut di dunia perminyakan atau lebih tepatnya sama anak-anak sma yang bercita-cita masuk teknik perminyakan supaya lebih mikir berkali2 (atau lebih tepatnya lagi membatalkan rencana) untuk milih jurusan itu.

Sebenarnya benar-benar gak pantas untuk gue menceritakan pengalaman yang satu ini, gue bukan tipe orang yang suka tertawa karena merasa benar diatas kesulitan orang-orang yang gak punya masalah sama gue. Tapi semoga aja tulisan ini gak pernah sampai di mata dan telinga teman-teman kuliah gue (yaa dimana lagi gue pernah kuliah?)

Jadi ceritanya, seminggu yang lalu gue janjian sama Evi dan Vita sahabat gue untuk hang out. Vita ngerequest tempat ketemuannya di mall yang dekat sekolah kita dulu. Untuk mencapai kesana kita naik grabcar yang di order dari tempat gue. Pertama gue naik, gue bilang dong ke tempat tujuannya mesti lewat tendean karena mau jemput Evi, supir grabcarnya merasa keberatan karena daerah tendean itu supermacet, tapi kalo tetap mau lewat sana dia minta di tambahin, yaudah gue iya in deh tuh.

Kalo gue perhatiin kayaknya mas supir grabcarnya orang terpelajar gitu, buku bacaan di samping joknya aja buku motivasinya Daniel Goleman. Untuk memecahkan suasana siang itu, gue basa-basi lah. Udah berapa lama jadi supir grabcar? Dia bilang baru beberapa minggu (gue lupa tepatnya berapa minggu) trus dia cerita, dia jadi supir grabcar karena baru dipecat dari chevron. Nah! Gue penasaran dong, udah berapa lama dia kerja di chevron? apa jabatan terakhirnya? Tanpa dia menjelaskan pun gue sebenarnya paham kenapa dia dipecat. Mengingat harga minyak lagi terjun bebas dan gue benar-benar tau perusahaan hulu minyak (dan mungkin service company juga) pada mangkas pegawainya.

Dia lulusan perminyakan ITB angkatan 1993 (waduhhh gue masih bayi men!), pernah kerja di ladang minyak kuwait pas masih fresh graduated, dan ternyata jabatan terakhirnya di chevron itu manager.. OMG, gue merasa simpatik sama dia. Orang yang dari jabatannya lumayan mapan tapi tetap mau nyoba berusaha apapun untuk cari uang sendiri sampai mau jadi supir grabcar. Dia bilang, dia lagi nunggu wawancara perusahaan minyak di papua. Gue tahu dalam keadaan begini pasti gak mudah untuk dia dapetin pekerjaan di bidangnya.

Mungkin karena gue tahu lumayan banyak tentang industri perminyakan obrolan gue jadi nyambung sama mas supir grabcar. Bahkan pas ada Evi sama Vita pun gue masih ngobrol, dan bahasan obrolannya malah jadi nyambung tentang anak istrinya.

Pas udah sampe yaa obrolan kita berhenti sampai disitu dong. Selama hang out pun gue gak mikir apapun yang jadi obrolan kita di grabcar. Baru dah pas dirumah gue cerna-cerna lagi obrolannya.

Gue bertanya sama diri gue sendiri, jadi... keputusan gue keluar dari kuliah tiga tahun yang lalu itu udah benar nih? Tiga tahun yang lalu siapa yang bakal menyangka tahun 2015 harga minyak mulai merosot? Gue baca di koran, pertamina bahkan memangkas 30% produksi hulunya  karena harga minyak udah tinggal seperempatnya yang menyebabkan harga jual gak bisa nutupin ongkos produksi. Dan gue yakin keadaan kayak begini gak sebentar. Pasti bisa lebih dari 5 tahun. Si mas supir grabcar kalaupun dapat pekerjaan di bidangnya pasti memulai dari bawah lagi. Mana ada lowongan pekerjaan langsung jadi manajer? Dan memang biasanya semakin keatas jenjang jabatannya, peluangnya pun makin sempit. Dan sialnya lagi, perusahaan pasti lebih suka merekrut fresh graduated dibanding orang-orang kayak dia. Tahu dong alasannya?

Sebenarnya industri migas adalah industri yang paling juicy, dalam artian cepat balik modalnya (yaa tapi tergantung dari sisi mana kita berada sih) untuk saat ini, gue pikir dari sisi impor minyak mentah dan pengolahan minyak (refinery) malah menjadi primadona karena diuntungkan dengan penurunan harga minyak. Tapi jelas aja impor dan refinery bukan bidang pekerjaannya petroleum engineer.

Keluar dari jurusan yang gak gue inginkan dan memutuskan gak mau lagi kuliah memang membuat gue merasa lega, tapi selama itu juga gue berpikir apa langkah gue benar? Kalau gue salah dan mereka benar gimana? Selama itu pula gue berusaha untuk berfikir nothing to loose. Benar atau salah, tetap aja gue merasa udah mengambil keputusan yang tepat. Selama gak kuliah bukan berarti gue gak belajar. Gue malah belajar banyak hal yang cakupannya lebih luas daripada pas gue masih berada dibangku kuliah. Gue bisa nemuin passion gue, gue bisa punya waktu untuk memahami diri gue sendiri, gue bisa berdamai dengan keadaan gue dimasa lalu. Semuanya gue pelajarin secara autodidak. Dosen gue cuma google, dan kampus gue di perpustakaan daerah hahaha.. gak percaya? Tapi kenyataannya emang begitu.