Rabu, 02 Maret 2016

branded temptation

Sebagaimana hal nya cewek, gue sukaaaa banget tas dan sepatu. Kalo baju, karena gue masih ndutz jadi segan deh megangnya. Hahhha

Gue suka belanja, belanja apa aja.. Ke pasar tradisional aja gue suka, ke senayan city? APALAGIH... Dan ketika belanja, gue orang yang selalu mengutamakan kualitas. Prinsip gue ketika berbelanja adalah, mending sedikit tapi berkualitas dan modelnya gak mudah ketinggalan jaman supaya everlasting dan gak bikin gue cepat bosan.

Karena itu, gue termasuk orang yang mendewakan merek. Bukan karena gengsi loh yaa, gengsi juga termasuk sih tapi bukan alasan utama gue suka barang bermerek.

Buat gue, merek adalah janji produsen kepada konsumen untuk menjaga kualitas barang yang di produksinya.

Sejak tahun 2011, gue mendengar cerita  tentang adanya tas mahal yang harganya mencapai ratusan juta. Tas ini dapetinnya gak mudah dan gak sembarangan orang bisa langsung dapat di tokonya. Tas itu bernama Hermes. Semenjak itu, gue mulai bermimpi untuk bisa nenteng tas itu suatu hari nanti. 

wardrobe room Jamie Chua, sosialita Singapore yang punya lebih dari 200 tas hermes (sebanyak itu? mau dong tanteee, diajak lihat-lihat ke kamarnya..)
Dan di tahun 2012, gue nemuin buku yang mengulas tentang tas yang bikin gue penasaran setengah mati itu. Judulnya hermes temptation yang di karang oleh Alexandra Dewi dan Fitria Yusuf. Ulasannya sangat membuka mata gue tentang hermes. Sampai disitu demam hermes gue reda...

Di tahun 2015, demam ini kumat lagi karena Syahrini gencar banget 'mempromosikan' tas hermesnya di instagram. Saat itu gue baru nemuin web reseller tas hermes yang berpusat di tokyo, namanya lecrin. Dari lecrin itu juga gue baru nyadar, warnanya tas hermes itu buanyakkk banget, saking banyaknya bikin gue bingung. Bayangin aja, warna pink ada 10, warna merah ada 17, warna biru ada 34, warna kuning dan oranye ada 9, warna hijau ada 8. Dan masih banyak lagi warna candy-candy lainnya yang bikin cewek fashionista selalu histeris. Arghhhh... Pusing.. Pusing... Meriang. Bingung pilih yang mana? Maunya sih semuanya... Ahak ahak... 

Belum lagi bingung pilih ukurannya, modelnya, pola jahitannya, hardware-nya, jenis kulitnya, nah ini juga nih yang juga bikin dilema. Mau kulit anak sapi, sapi dewasa, anak banteng, banteng tua, burung unta, kadal, buaya nil, buaya australi, buaya mississippi, buaya darat mungkin? kalo kulit mantan ada gak yaa???

Saking terobsesinya, tiap susah tidur gue pasti mampir ke web nya lecrin dan googling contoh-contoh gambarnya di google. Misalnya hermes kelly (jenis tas), eutope (warna), epsom (jenis kulit), 28 (ukuran), sellier (jenis jahitan) palladium (hardware). Rasanya semenjak kenal hermes dan lecrin, gue serasa jadi ahli kulit-perkulitan dan warna-pewarnaan. Gue hapal mati semua jenis warna dan kulitnya. Bahkan ketika misalnya gue lagi jalan ke senayan city dan ada orang pake tas hermes, gue bisa menebak-nebak apa warna, ukuran, jenis kulit, bahkan harga tasnya.. Edunzz pisan!

Gue bahkan bikin list tas hermes mana aja yang nanti pengen gue jadikan sebagai barang buruan gue. Dan setelah ditotal, jumlahnya mencapai 16. Waktu itu gue mikir, wah gila juga gue kalo beneran beli 16 biji. Masak mau pelihara tas sebanyak ini? Tapi setelah itu demam gue sedikit mereda meskipun kumat lagi sebulan kemudian.

Gue kemudian mencoba untuk lebih berealistis. Misalnya warna menthe dan mimosa, mau dipake kemana sih tas warna kayak gitu? Belum lagi padu padanin sama sepatu dan bajunya susah, SITU MAU NGARTIS??? *gue jadi nyinyirin diri gue sendiri* Oke.. Delete.

Warna parchemin dan myconos juga, ini warna tas pada umumnya kan? Kenapa harus hermes sih? Masih ada chanel, valentino, fendi, louis vuitton yang gak kalah keren. Kalaupun nanti gue punya anak perempuan juga belum tentu mau ngewarisin tas. Oke... Delete lagi.

Sampai akhirnya dari 16 jadi tinggal 4.

Dan di awal tahun 2016, gue mulai bosan memimpikan tas hermes. Gue juga jadi sensi sendiri, kok artis pantura yang baru mulai terkenal aja udah bisa nenteng hermes sih? Mana ke-eksklusif-an dari tas hermes? Dulu orang yang terkenal aja belum tentu bisa langsung punya, dan cuma orang-orang dilingkungan elit aja yang bisa punya akses beli langsung tanpa harus nunggu bertahun-tahun.

Tapi karena itu pula gue sadar, harga diri tiap orang seorang gak bisa dinilai dari barang bermerek yang melekat ditubuhnya.

Gue mengingat kembali kata-kata mbak Alexandra Dewi di bukunya, rasa bangga memiliki barang mahal itu paling lama cuma bertahan 3 bulan. Setelah itu, yaa udah. Gak berarti apa-apa lagi.. Beda kalau kita menyubangkan uang itu demi kebaikan (bukan karena pamer pastinya) rasanya legaaaa banget dan pastinya akan membawa rasa puas dalam diri sendiri untuk jangka waktu yang lebih lama.

Gue bertanya sama diri gue sendiri... Kenapa sih gue merasa harus banget punya? Supaya dikagumi dan merasa lebih hebat dari orang lain? Supaya ada yang bisa gue banggakan dalam hidup gue? Emangnya gak bisa, bangga sama diri sendiri tanpa embel-embel apapun? Jangan-jangan ada yang salah dengan pola pikir gue selama ini. Jangan-jangan, gue pengen barang mahal supaya menutupi rasa insecure (minder-rendah diri-kurang percaya diri) dalam diri gue sendiri?

Gue gak ingin menyangkal, gue akui banyak banget kekurangan dalam diri gue yang bikin gue merasa insecure. Dan gue sadar rasa insecurities ini ibarat penyakit mental yang harus di cari tau penyebabnya, disembuhin, dan di maintenance, supaya gak kumat lagi.

Ternyata Tuhan menunda rezeki gue supaya gue punya waktu buat berfikir dan memahami karunianya. Supaya kedepannya gue bisa bertindak dengan lebih bijaksana. Bukan malah menghambur-hamburkan membeli benda yang gak seberapa penting.